RELUNG.ID- Ratusan pohon bonsai berbagai jenis dan ukuran tampil memukau dalam Pameran dan Kontes Bonsai Lokal Terbuka 2025 yang digelar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Palembang.
Acara bertema “Sriwijaya Berseni dan Berkarya Bersama” ini berlangsung selama enam hari, dari 25 hingga 30 Mei 2025, di halaman Gedung DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Jalan POM IX, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.
Pameran secara resmi dibuka oleh Komandan Lanal Palembang, Kolonel Laut (P) Faisal, M.Tr.Hanla., M.M., CRMP, pada Rabu (28/5/2025) sore. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Investasi, Riza Pahlevi, serta Plt. Kabag Humas dan Protokol DPRD Sumsel, Muhammad Fakhri Azhari.
Ketua Panitia Devi Udariansyah menyebutkan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan yang kembali digelar setelah sempat terhenti karena pandemi COVID-19.
“Terakhir kami mengadakan pameran pada 2021 di OPI Mall dan 2023 di Central Bonsai Palembang. Tahun ini kami kembali dengan antusiasme tinggi dari para peserta,” ujar Devi.
Sebanyak 314 bonsai dipamerkan, berasal dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, seperti Muara Enim, OKU Timur, Lahat, Prabumulih, dan Ogan Ilir. Jenis-jenis yang ditampilkan antara lain Anting Putri, Sancang, Santigi, Serut, Boksus, Sapu-sapu, dan Waru.
Devi menekankan bahwa bonsai bukan sekadar hobi, melainkan juga karya seni bernilai ekonomi. “Bonsai membutuhkan ketelatenan, pemahaman estetika, dan kreativitas tinggi. Tapi di balik itu, ada potensi ekonomi yang besar,” katanya.
Menurutnya, permintaan terhadap bahan dan tanaman bonsai terus meningkat seiring bertambahnya peminat. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadikannya sebagai sumber penghasilan tambahan.
“Kalau dikelola dengan baik dan mengikuti selera pasar, budidaya bonsai bisa jadi bagian dari ekonomi kreatif. Tapi tidak cukup hanya menanam, perlu juga memahami seni dan pasar,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa budidaya bonsai dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti stek, cangkok, dan semai biji. Sedangkan untuk perawatannya, menurut Devi, tidak terlalu sulit selama memahami dasar botani.
“Harga bonsai sangat bervariasi karena dinilai sebagai karya seni. Tidak ada patokan pasti, semuanya tergantung bentuk, kematangan, dan karakter pohon,” jelasnya.
Lewat ajang ini, Devi berharap seni bonsai bisa semakin dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat luas. “Kami ingin bonsai bukan hanya dinikmati sebagai hobi pribadi, tapi juga sebagai karya seni yang punya nilai ekonomi dan budaya,” pungkasnya.[DSK]

