RELUNG.ID- Partai Amanat Nasional (PAN) masuk lima besar partai politik paling populer secara nasional berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO). Capaian tersebut disambut antusias oleh para kader PAN di berbagai daerah, termasuk di Palembang.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga dan bersyukur atas capaian ini,” ujar Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Palembang, Sudirman, Senin (2/6/2025).
Sudirman menyebut hasil survei tersebut menjadi pemacu semangat bagi seluruh kader PAN, khususnya di Palembang, untuk terus hadir dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Ini akan menjadi motivasi bagi kami. Sebagaimana instruksi Ketum Zulkifli Hasan, kita harus terus hadir membantu masyarakat,” tegasnya.
Dalam survei IPO bertajuk Analisa Sosial: Persepsi Publik atas Optimisme dan Kinerja Pemerintah, PAN tercatat memiliki tingkat popularitas sebesar 71,5 persen, berada di posisi kelima setelah PDI Perjuangan (94%), Gerindra (92%), Golkar (92%), dan PKB (77,8%). Di bawah PAN, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyusul dengan angka 70,2%.
Survei dilakukan terhadap 1.200 responden dengan metode Multistage Random Sampling (MRS), margin of error 2,90 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menyebut meningkatnya popularitas PAN tak lepas dari manuver politik partai tersebut, terutama kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
“PAN bisa dikatakan stabil dan memiliki daya tawar yang menguat. Kedekatan dengan Presiden Prabowo menjadi salah satu faktor penting,” kata Dedi, Minggu (1/6).
Ia menambahkan, kontribusi kader-kader PAN yang dikenal publik dan duduk di parlemen juga mendongkrak elektabilitas partai.
“Tentu ini juga menjadi catatan keberhasilan kepemimpinan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum PAN,” tambahnya.
Selain popularitas partai, survei IPO juga memotret elektabilitas partai politik jika pemilu legislatif digelar hari ini. Hasilnya, Gerindra menempati posisi pertama dengan 34,7 persen, disusul PDI Perjuangan (12,5%), Golkar (10%), PKB (6,2%), PAN (5%), dan Partai Demokrat (4,9%).
Dedi menilai lonjakan elektabilitas Gerindra berkaitan langsung dengan tren naiknya popularitas Prabowo sebagai Presiden terpilih. Sementara itu, turunnya elektabilitas PDIP disebut berkaitan dengan skandal korupsi yang menyeret nama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan dinamika politik internal partai.[DSK]

