RELUNG.ID – Dokter Tifauzia Tyassuma, yang akrab disapa dokter Tifa, kembali mengkritisi proses verifikasi ijazah milik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Melalui unggahan di akun media sosialnya, ia mempertanyakan validitas data yang digunakan Direktorat Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, khususnya dokumen berupa surat kabar Kedaulatan Rakyat yang dijadikan acuan dalam penyelidikan.
Seperti diketahui, Dirtipidum Bareskrim Polri sebelumnya menyatakan bahwa ijazah sarjana milik Jokowi dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah asli.
Pernyataan ini disampaikan setelah penyelidikan forensik dilakukan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri terhadap dokumen tersebut.
Namun, dokter Tifa mengungkapkan sejumlah dugaan ketidaksesuaian, terutama pada detail penanggalan dalam surat kabar Kedaulatan Rakyat yang digunakan sebagai salah satu bukti pendukung.
Dalam unggahannya di platform X (dulu Twitter), ia menyoroti ketidaksesuaian antara penanggalan Masehi dan penanggalan Jawa yang tercantum dalam koran tersebut.
“Pengumuman penerimaan mahasiswa baru angkatan 1980 dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 18 Juli 1980 atau penanggalan Jawa 24 PASA 1912,” tulis dokter Tifa.
Namun, menurutnya, koran yang ditunjukkan Bareskrim mencantumkan penanggalan berbeda, yakni “Jumat Kliwon, 5 Puasa 1912”, yang menurutnya tidak sesuai dengan sistem penanggalan Jawa pada tanggal tersebut.
“Ini kesalahan fatal! Tidak ada ampun! Bayangkan data Bareskrim yang digunakan untuk uji forensik pakai koran palsu,” tulisnya.
Selain penanggalan, dokter Tifa juga menyoroti nama-nama yang tercantum dalam daftar penerimaan mahasiswa baru yang ditampilkan Bareskrim.
Ia menyoroti nama “Andjipramaria” yang berada di atas nama “Joko Widodo” dalam daftar tersebut. Menurutnya, nama yang selama ini dikenal sebagai teman satu angkatan Jokowi adalah “Andi Pramaria”, bukan “Andjipramaria”.
“Coba Googling sendiri nama Andi Pramaria. Anda akan menemukan nama tersebut dengan mudah,” ujarnya.
Dokter Tifa menilai proses pembuktian keaslian ijazah yang dilakukan Bareskrim tidak profesional dan penuh kejanggalan.
“Dari selembar dokumen ini saja, kita bisa melihat betapa amburadulnya kerja Bareskrim. Sama sekali tidak profesional! Sembrono! Acak adut! Ngawur!” tulisnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Bareskrim Polri belum memberikan tanggapan atas kritik yang dilontarkan dokter Tifa tersebut. (vid)

