RELUNG.ID – Volvo mengumumkan langkah besar dalam strategi pasar Amerika Serikat dengan menghentikan penjualan hampir seluruh model sedan dan station wagon mulai tahun model 2026.
Keputusan ini merupakan respons langsung terhadap kebijakan tarif impor baru yang diterapkan pemerintah AS di bawah kebijakan dagang yang keras.
Tarif sebesar 27,5 persen untuk kendaraan yang diimpor dari Eropa dan 100 persen untuk kendaraan listrik dari Cina telah memberikan tekanan berat pada Volvo, yang dimiliki oleh perusahaan otomotif Cina, Geely.
Kondisi ini menyebabkan Volvo menghentikan produksi dan penjualan sedan S90 buatan Cina serta station wagon V60 buatan Eropa di pasar AS.
“Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, mengingat sedan dan wagon telah lama menjadi identitas Volvo,” kata CFO Volvo, Fredrik Hansson.
Meski demikian, pihaknya masih harus menyesuaikan diri dengan realitas baru ayng terbentuk akibat kebijakan perdagangan internasional tersebut.
Setelah perubahan ini diberlakukan, satu-satunya model non-SUV yang akan tetap tersedia di ruang pamer Volvo Amerika adalah V60 Cross Country, versi wagon dengan karakter lebih tangguh dan desain lebih tinggi.
Langkah strategis lain yang diambil Volvo untuk mengurangi dampak tarif adalah dengan memindahkan produksi model terlarisnya, crossover XC60, ke fasilitas produksi di Ridgeville, South Carolina.
Saat ini, pabrik tersebut memproduksi SUV listrik EX90 dan Polestar 3, namun hanya beroperasi pada sekitar 13 persen dari kapasitas totalnya. Produksi XC60 di pabrik ini dijadwalkan akan dimulai pada awal 2027.
“Biaya penambahan lini produksi XC60 sangat efisien karena pabrik ini sebelumnya dibangun untuk sedan S60, yang memiliki platform teknik dasar yang sama,” jelas Hansson.
Volvo baru-baru ini melaporkan kerugian operasional sebesar 10 miliar kronor Swedia (sekitar €1 miliar) untuk kuartal kedua 2025. Hal ini menambah urgensi pada restrukturisasi bisnis perusahaan agar tetap kompetitif di pasar global.
Sementara itu, CEO Volvo, Håkan Samuelsson, turut menyoroti ketimpangan kebijakan perdagangan internasional. Ia menyerukan agar Uni Eropa mempertimbangkan untuk menurunkan tarif 10 persen atas mobil buatan AS demi mendorong perdagangan yang lebih adil dan terbuka.
“Jika Eropa ingin menjadi pelopor dalam perdagangan bebas, kita harus berani memimpin,” ujar Samuelsson sembari mengatakan, dia menyadari, sebagai pemimpin bisnis, ruang pengaruhnya dalam hal ini sangat terbatas. (LWM)

