RELUNG.ID – Kemas Ari Panji berhasil menyelesaikan studi doktornya di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sabtu (27/9/2025).
Dalam disertasinya tersebut, sejarawan Kota Palembang ini mengulik sejarah dari mata uang pitis.
Di mana, mata uang ini digunakan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam.
Dia mengaku jika kajian disertasi tidak terlalu banyak literaturnya sehingga dia berinisiatif mengupas sejarah mata uang pitis ini. Padahal dahulunya, Pitis ini memiliki peran penting dalam sejarah sosial, ekonomi dan politik masyarakat Palembang pada masa kejayaan Kesultanan.
“Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam terdapat dua mata uang yakni uang pitis tebok dan uang pitis buntu,” katanya.
Menurutnya, pitis ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi ekonomi tetapi juga sebagai cerminan dari dinamika sosial, politik, dan budaya masyarakat Palembang pada masa itu.
Dari perspektif politik, intervensi Belanda terhadap sistem keuangan kesultanan menunjukkan bagaimana kekuatan eksternal dapat mempengaruhi struktur ekonomi lokal.
Dimana penggantian pitis dengan gulden Belanda tidak hanya mengubah sistem moneter tetapi juga membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial masyarakat.
“Namun sejarah juga mencatat bagaimana pitis menjadi simbol kedaulatan dan identitas masyarakat Palembang,” terangnya.
Serta bagaimana desain dan inskripsi pada koin tersebut memberikan wawasan tentang pengaruh Islam dan hubungan perdagangan yang luas dengan negara-negara lain.
“Seperti Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di Timur Tengah,” terangnya.
Dalam menghadapi tekanan ekonomi dan politik kolonial, sang Sultan mampu bernegosiasi cerdas dalam perdagangan komoditas unggulan seperti timah dan lada.
Ini menurutnya menjadi bukti bahwa walaupun kesultanan berada dalam bayang-bayang kekuasaan asing, ruang untuk bertahan dan mengatur strategi tetap tersedia.
Bahkan, dalam ketegangan itulah terlihat daya adaptasi dan ketangguhan pemimpin lokal.
Aspek ekonomi dalam disertasi ini turut memperlihatkan bagaimana perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya menjadi pilar utama perekonomian kesultanan Palembang.
Sementara itu, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Raden Muhammad Fauwaz Diradja mengapresiasi disertasi yang dikaji oleh Dr Kemas Ari Panji, SPd MSI dalam meraih gelar Doktor. Sultan Fauwaz menjelaskan, Palembang memiliki koin yang merupakan salah satu bentuk kekayaan.
“Tidak semua kerajaan-kerajaan di nusantara ini memiliki mata uang sendiri dimasa lalu,” katanya.
Lebih jauh kata Sultan Fauwaz, dilihat dari perkembangan uang pitis memiliki keunggulan yang ini menunjukkan bukti-bukti peradaban yang sudah sangat maju, sangat tinggi.
Meski dihadapkan pada tekanan dari kekuatan asing, masyarakat Palembang menunjukkan daya tahan budaya yang luar biasa. Masyarakat tidak hanya menyerah pada perubahan, namun meresponnya dengan kreativitas dan semangat mempertahankan identitas.
“Pitis, menjadi simbol perlawanan dan penanda sejarah yang tidak bisa dihapus begitu saja oleh kolonialisme,” tutupnya. (DSK)

