Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Setelah Pangdam Brawijaya, Kini Muncul Naruto yang Jadi Prajurit TNI

11/10/2026

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/2026

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Monday, 12 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Sejarah Pitis, Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam
Regional

Sejarah Pitis, Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

alwiBy alwi27/09/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Kemas Ari Panji berhasil menyelesaikan studi doktornya di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sabtu (27/9/2025).

Dalam disertasinya tersebut, sejarawan Kota Palembang ini mengulik sejarah dari mata uang pitis.

Di mana, mata uang ini digunakan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

Dia mengaku jika kajian disertasi tidak terlalu banyak literaturnya sehingga dia berinisiatif mengupas sejarah mata uang pitis ini. Padahal dahulunya, Pitis ini memiliki peran penting dalam sejarah sosial, ekonomi dan politik masyarakat Palembang pada masa kejayaan Kesultanan.

“Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam terdapat dua mata uang yakni uang pitis tebok dan uang pitis buntu,” katanya.

Menurutnya, pitis ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi ekonomi tetapi juga sebagai cerminan dari dinamika sosial, politik, dan budaya masyarakat Palembang pada masa itu.

Dari perspektif politik, intervensi Belanda terhadap sistem keuangan kesultanan menunjukkan bagaimana kekuatan eksternal dapat mempengaruhi struktur ekonomi lokal.

Dimana penggantian pitis dengan gulden Belanda tidak hanya mengubah sistem moneter tetapi juga membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial masyarakat.

“Namun sejarah juga mencatat bagaimana pitis menjadi simbol kedaulatan dan identitas masyarakat Palembang,” terangnya.

Serta bagaimana desain dan inskripsi pada koin tersebut memberikan wawasan tentang pengaruh Islam dan hubungan perdagangan yang luas dengan negara-negara lain.

“Seperti Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di Timur Tengah,” terangnya.

Dalam menghadapi tekanan ekonomi dan politik kolonial, sang Sultan mampu bernegosiasi cerdas dalam perdagangan komoditas unggulan seperti timah dan lada.

Ini menurutnya menjadi bukti bahwa walaupun kesultanan berada dalam bayang-bayang kekuasaan asing, ruang untuk bertahan dan mengatur strategi tetap tersedia.

Bahkan, dalam ketegangan itulah terlihat daya adaptasi dan ketangguhan pemimpin lokal.

Aspek ekonomi dalam disertasi ini turut memperlihatkan bagaimana perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya menjadi pilar utama perekonomian kesultanan Palembang.

Sementara itu, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Raden Muhammad Fauwaz Diradja mengapresiasi disertasi yang dikaji oleh Dr Kemas Ari Panji, SPd MSI dalam meraih gelar Doktor. Sultan Fauwaz menjelaskan, Palembang memiliki koin yang merupakan salah satu bentuk kekayaan.

“Tidak semua kerajaan-kerajaan di nusantara ini memiliki mata uang sendiri dimasa lalu,” katanya.

Lebih jauh kata Sultan Fauwaz, dilihat dari perkembangan uang pitis memiliki keunggulan yang ini menunjukkan bukti-bukti peradaban yang sudah sangat maju, sangat tinggi.

Meski dihadapkan pada tekanan dari kekuatan asing, masyarakat Palembang menunjukkan daya tahan budaya yang luar biasa. Masyarakat tidak hanya menyerah pada perubahan, namun meresponnya dengan kreativitas dan semangat mempertahankan identitas.

“Pitis, menjadi simbol perlawanan dan penanda sejarah yang tidak bisa dihapus begitu saja oleh kolonialisme,” tutupnya. (DSK)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleAsap Karhutla Mulai Ganggu Tidur Warga Palembang, Polusi Udara Capai Level Tidak Sehat
Next Article Sumsel Diakui Jadi Lumbung Jagung, Kapolri Hingga DPR RI Ikuti Panen Raya Serentak di OKU Timur
alwi

Related Posts

Regional

Setelah Pangdam Brawijaya, Kini Muncul Naruto yang Jadi Prajurit TNI

11/10/20267 Views
Regional

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/202616 Views
Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202329,007 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,877 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,850 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?