RELUNG.ID – Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Sumatra Selatan kembali menunjukkan tren positif pada September 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat, NTP bulan ini mencapai 127,77, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 124,36.
Kepala BPS Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, menyebut kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas unggulan daerah.
“Faktor utama pendorong NTP berasal dari naiknya harga kopi dan karet, selain itu juga ada dukungan dari kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP),” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (18/10/2025).
Wahyu merinci, indeks harga yang diterima petani Sumsel pada September 2025 naik sebesar 4,47 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani justru turun 0,10 persen. Kondisi ini membuat petani memperoleh keuntungan lebih besar.
Beberapa komoditas yang memberi kontribusi positif antara lain:
Kopi naik 13,23 persen
Karet naik 4,22 persen
Kelapa sawit naik 2,90 persen
Cabai merah naik 19,78 persen
Jagung naik 3,16 persen
Selain itu, harga gabah juga terpantau meningkat hingga Rp6.500 per kilogram sehingga memperkuat daya beli petani.
Meski sebagian besar komoditas mengalami kenaikan, beberapa produk hortikultura justru tercatat turun, antara lain:
Bawang merah turun 12,83 persen
Mentimun turun 12,56 persen
Tomat sayur turun 7,85 persen
Terung turun 5,81 persen
Bawang putih turun 2,76 persen
“Secara subsektor, NTP Sumsel juga meningkat di tanaman pangan 0,16 persen, hortikultura 1,72 persen, perkebunan 5,94 persen, dan peternakan 1,04 persen,” tambah Wahyu.
Menurut Wahyu, capaian ini menandakan kesejahteraan petani di Sumsel relatif lebih baik dibandingkan rata-rata nasional.
“Produksi bagus, harga juga mendukung. Petani kita mendapat nilai lebih dari hasil produksi yang diusahakan,” ujarnya.[THQ]

