Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Layar Tancap Kembali Hidup di Semende: Film “Mother Earth” Jadi Jembatan Generasi untuk Lestarikan Adat Tunggu Tubang
Regional

Layar Tancap Kembali Hidup di Semende: Film “Mother Earth” Jadi Jembatan Generasi untuk Lestarikan Adat Tunggu Tubang

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda07/10/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Waraga di Kecamatan Semende Darat Tengah, Muara Enim saat menonton film Mother Earth: Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang, Kedaulatan Pangan Berkelanjutan. Foto : Istimewa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Suasana malam di Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT), Kabupaten Muara Enim, berubah menjadi penuh nostalgia ketika warga dari tiga desa—Kota Agung, Palak Tanah, dan Muara Tenang—berkumpul di lapangan terbuka untuk menonton film “Mother Earth: Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang, Kedaulatan Pangan Berkelanjutan.”

Pemutaran film berdurasi satu jam itu bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan atas hidupnya kembali tradisi dan identitas masyarakat Semende.

Sejak pukul 19.30 WIB, ratusan warga telah memenuhi area pemutaran. Di bawah langit terbuka, suara tawa dan obrolan hangat menyatu dengan layar putih sederhana yang menampilkan kisah adat Tunggu Tubang—sistem pewarisan matrilineal yang menjaga keseimbangan sosial dan pangan masyarakat Semende selama berabad-abad.

Dalam budaya Semende, Tunggu Tubang adalah anak perempuan tertua yang memegang tanggung jawab terhadap rumah dan sawah warisan keluarga. Tugas itu bukan sekadar simbol, tapi wujud tanggung jawab untuk menjaga tanah sebagai sumber kehidupan bersama.

“Melalui film ini, kami ingin masyarakat Semende kembali memahami filosofi Tunggu Tubang, bahwa menjaga warisan bukan hanya soal harta, tapi juga menjaga keberlanjutan hidup,” ujar Muhammad Tohir, Ketua Ghompok Kolektif sekaligus sutradara film tersebut.

Film dokumenter ini diproduksi dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP, dan sebelumnya sempat diputar di UIN Raden Fatah Palembang bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel.

Bagi warga desa, terutama generasi tua, pemutaran film dengan konsep layar tancap menghadirkan nostalgia masa lalu.

“Dulu layar tancap sering diadakan, tapi kali ini berbeda karena kami menonton cerita tentang adat kami sendiri,” tutur Eliana (46), seorang Tunggu Tubang dari Desa Kota Agung dengan mata berkaca-kaca.

Sementara bagi anak muda seperti Siska Damaiyanti (24) dari Desa Palak Tanah, pengalaman ini menjadi hal baru yang menggugah.

“Film ini membuka mata kami. Kami jadi tahu betapa berharganya adat kami sendiri. Layar tancapnya juga seru, seperti menyatukan seluruh kampung,” ujarnya antusias.

Camat SDT, Zulfikar, mengapresiasi kegiatan tersebut karena bukan hanya menampilkan karya film, tapi juga menghidupkan kembali tradisi media rakyat yang mulai hilang.

“Ini bukan hanya pemutaran film, tapi gerakan budaya. Warga kembali merasakan kebersamaan lewat layar tancap dan sekaligus mengenal kembali adat Tunggu Tubang,” katanya.

Tohir berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk menjadikan film dan media visual sebagai sarana pendidikan budaya di daerah masing-masing.

“Film bisa jadi cara baru untuk berbicara tentang warisan lama,” ujarnya singkat.

Film Muara Enim Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMenu MBG di Depok Jadi Sorotan, SPPG Jelaskan Alasan Sajikan Kentang dan Pangsit

Next Article Geledah 12 Ruang KPU, Kejari Prabumulih Temukan Drive Kosong
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20266 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,900 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,773 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,745 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?