RELUNG.ID- Kisah pilu Melda Safitri, ibu dua anak asal Palembang, mendadak viral di media sosial dan mengundang simpati publik.
Ia diceraikan suaminya tak lama setelah pria tersebut dinyatakan lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ironisnya, kini Safitri justru menghadapi ancaman dan intimidasi buntut dari video viral yang menampilkan kisah hidupnya.
Suami Safitri, yang kini bekerja sebagai anggota Satpol PP, menceraikannya setelah menerima Surat Keputusan (SK) PPPK. Padahal, selama masa perjuangan, Safitri turut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan sayur dan gorengan demi membiayai kebutuhan rumah tangga, termasuk membeli seragam dan atribut Korpri untuk sang suami.
“Baju pelantikan itu saya yang belikan dari hasil jualan. Dia pesan lewat Shopee, tapi saya yang bayar dari uang hasil jual gorengan. Saya bantu dia dari nol sampai akhirnya bisa lulus PPPK, tapi justru saya ditinggal sebelum dia menerima SK,” tutur Safitri lirih, Kamis (23/10/2025).
Kisah Melda Safitri pertama kali mencuat setelah tetangganya mengunggah video perpisahan yang memperlihatkan momen dirinya meninggalkan rumah bersama dua anaknya.
Video tersebut viral dan menuai simpati dari ribuan warganet, namun di sisi lain memicu reaksi keras dari pihak yang diduga mantan suaminya yang merasa aib rumah tangganya disebarkan.
Melalui akun @Lovika Susana Dewi Bangun, salah satu pengguna Facebook mengungkap bahwa Safitri dan tetangganya kini mendapat ancaman hukum akibat unggahan video tersebut.
“Kak Safitri dan tetangganya mendapatkan intimidasi dan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Bahkan tetangganya diancam akan dipenjara hanya karena memposting video perpisahan itu,” tulis Lovika.
Lovika menegaskan, tidak ada unsur pidana dalam video itu karena tidak menyebut nama atau menunjukkan wajah pihak mana pun. Ia pun memperingatkan pihak yang mengancam agar berhenti menebar intimidasi.
“Video itu tidak ada kata-kata kasar, tidak menyebut nama, bahkan tidak ada foto pihak yang bersangkutan. Itu murni hanya momen perpisahan, bukan pencemaran nama baik. Hati-hati kalian yang mengancam Kak Safitri dan tetangganya,” tegasnya.
Dalam kesaksiannya, Safitri menceritakan bahwa hubungan rumah tangganya mulai renggang setelah sang suami lulus seleksi PPPK.
Perubahan sikap itu memuncak pada 14 Agustus 2025, ketika sang suami pulang kerja dan marah-marah hanya karena tidak menemukan lauk di meja makan.
“Dia marah hanya karena tidak ada lauk. Padahal saya tidak masak karena tidak ada bahan di rumah. Dia terus memaki dan melontarkan kata-kata kasar,” kenang Safitri.
Malam itu, pertengkaran berujung pada perceraian sepihak. Saat Safitri sedang mencuci piring, sang suami tiba-tiba mengemasi pakaian dan mengucapkan kata cerai tiga kali sebelum pergi meninggalkan rumah.
“Dia bilang, ‘Kamu Fitri saya ceraikan satu, dua, tiga,’ lalu pergi membawa bajunya,” ujarnya.
Tiga hari kemudian, tepat pada 18 Agustus 2025, sang suami dilantik sebagai pegawai PPPK. Safitri pun menduga, perceraian itu bukan sekadar karena masalah rumah tangga, melainkan berkaitan dengan status dan jabatan baru suaminya.
“Dia ceraikan saya karena mau jabatan. Kalau memang mau cerai, kenapa tidak dari dulu, kenapa setelah punya jabatan baru menceraikan saya,” ucapnya dengan nada kecewa.
Kini dua bulan pasca-perceraian, Safitri berjuang membesarkan dua anaknya seorang diri. Ia berjualan gorengan dan minuman seharga seribu rupiah di depan rumah kontrakannya.
Meski hidup sederhana, ia tetap berusaha tegar di tengah tekanan dan ancaman yang terus datang.
“Saya hanya ingin hidup tenang bersama anak-anak. Tidak pernah berniat mempermalukan siapa pun,” kata Safitri.[YKP]

