RELUNG.ID – Sebanyak 29 ekor sapi di wilayah Muara Enim terdeteksi terkena penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit cacar.
Meski demikian, penyakit cacar tersebut tidak berbahaya dan menular kepada manusia.
Hal ini diakui Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan (DTPHP) Muara Enim, Ulil Amri, Senin (6/2).
Baca Juga: 13 Tips Memilih Kado Pasangan di Hari Valentine
Dia mengatakan penyakit cacar ini tidak separah dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sehingga, menurutnya, LSD ini tidak sampai membuat sapi mati. Berbeda halnya dengan PMK yang dapat membuat sapi mati.
Berdasarkan pendataan sementara, di Muara Enim sendiri terdapat 29 sapi yang terinfeksi penyakit cacar. Sapi tersebut tersebar di empat kecamatan, dengan rincian yakni empat ekor di Kecamatan Rambang Niru, Enam ekor di Kecamatan Empat Petulai Dangku, 10 ekor tersebar di Muara Enim dan sembilan ekor tersebar di Gelumbang.
Saat ini, petugasnya sudah turun ke lapangan melakukan penyuntikan pemberian antibiotik dan vitamin.
“Baru sekitar dua Minggu penularannya yang diperkirakan dari aktivitas jual beli. Pertama keli ditemukan di kecamatan Empat Petulai Dangku, Rambang Dangku, Muara Enim dan terakhir di Gelumbang,” ujarnya.
Baca Juga: Mark NCT 127 dan Arin Oh My Girl Dirumorkan Berpacaran, Ini Respons Kedua Agensi
LSD atau penyakit cacar merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh capripox virus yang termasuk family poxviridae yang juga dikenal dengan nama Neethling Virus. Sampai saat ini penyakit LSD ini hanya menyerang ternak sapi dan kerbau yang sering dihubungkan dengan wabah penyakit cacar pada ternak domba (Sheep pox). Seperti PMK, penyakit LSD ini tidak menular dan dapat disembuhkan.
Untuk gejala klinis utama yang ditimbulkan adalah adanya nodul / benjolan pada kulit yang kerap ditemukan didaerah leher, kepala, kaki, ekor dan ambing. Bahkan pada kasus berat lesi ini dapat ditemukan di seluruh tubuh hewan sehingga hewan mengalami demam. Seperti halnya penyakit lain yang disebabkan oleh virus, penyebaran LSD dapat terjadi karena kontak langsung hewan yang sakit, atau lewat makanan/minuman yang tercemar penyakit.
Menurutnya, LSD dapat dicegah dan dikendalikan dengan cara seperti pembatasan impor ternak, karkas, kulit, dan semen. Pembatasan pergerakan ternak ke daerah tertular, pemindahan hewan yang terkena dampak klinis dan vaksinasi. Pembuangan hewan mati (disposal) dengan benar, dan pembersihan serta desinfeksi area (menjaga sanitasi/ kebersihan kandang dan lingkungan kandang).
Baca Juga: Kim Myung Soo dan Sungyeol INFINITE Dikonfirmasi Bakal Bintangi Drama Korea Baru ‘Accounting Firm’
Penggunaan jarum suntik sekali pakai, untuk mencegah penularan virus LSD kepada ternak yang sehat. Kemudian dampak LSD, sambung Ulil, tentu akan menyebabkan kerugian ekonomi seperti kekurusan dan kerusakan karkas, penurunan produksi susu dan radang ambing / mastitis, gangguan reproduksi (infertilitas sementara bahkan permanen pada sapi jantan), dan keguguran / abortus, kerusakan kulit akibat nodul / benjolan yang apabial pecah, akan tetap meninggalkan keropeng di permukaan kulit.
“Saya mengimbau kepada peternak atau masyarakat untuk membeli Sapi yang benar-benar kondisi sehat. Dan kalau sakit cepat di isolasi supaya tidak menular,” pungkasnya.

