RELUNG.ID – 10 aparat kepolisian di Haiti dilaporkan tewas oleh anggota geng bersenjata. Hal ini mengundang kemarahan kepolisian setempat.
Polisi yang marah pun meminta pemerintah bertanggung jawab atas kematian rekannya. Bahkan, mendatangi kediaman pribadi Perdana Menteri Haiti, Ariel Henry hingga memecahkan kaca jendela beberapa mobil disekitaran wilayah tersebut di Ibukota Port-Au-Prince, Kamis (26/1).
Dari video yang beredar di media sosial, suara tembakan juga terdengar di sekitar wilayah itu.
Baca Juga: Heboh Pesan Berantai Penculikan Anak di SDN 239 Palembang, Polisi: Itu Hoax!
Tak hanya itu, ratusan pengunjung rasa juga marah atas situasi keamanan negara yang kacau, dimana polisi mulai melakukan pemblokiran jalan, dan menembakkan senjata ke udara. serta mendirikan barikade dari ban terbakar di beberapa lingkungan kota untuk melumpuhkan lalu lintas. Kekacauan tersebut, membuat sekolah terpaksa diliburkan, dan transportasi umum pun terganggu.
Perdana Menteri Haiti, Airel Henry yang tidak berada di rumahnya karena menghadiri KTT Komunitas Amerika Latin dan Karibia (CELAC) di Argentina, membuat para demonstran semakin membabi buta pergi menuju bandara.
“Orang-orang bersenjata merampok penumpang asing di tempat parkir dan menggerebek toko di bandara (Toussaint Louverture International) hingga rata dengan tanah,” lapor media lokal, seperti dikutip Anadolu Agency.
Namun dalam serangan di bandara itu, Perdana Menteri berhasil menyelinap pergi dari para demonstran.
Baca Juga: Google Bakal Hadirkan Fitur Baru Penguncian Tab Penyamaran untuk di Chrome untuk Android
Di tengah meningkatnya kekerasan dan pembunuhan yang menargetkan aparat keamanan, Direktur Jenderal Polisi, Frantz Elbé sempat menyatakan keadaan waspada maksimum dalam pengumumannya pada Kamis.
Pemerintah Haiti sendiri telah meminta bantuan militer kepada masyarakat internasional untuk mengatasi tindakan geng kriminal yang telah mengambil alih negara tersebut.
Minggu ini, Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga telah mendesak pengerahan pasukan bersenjata khusus internasional, untuk membantu mengamankan kondisi di Haiti dari geng kriminal.
Meski AS dan Kanada telah mengirimkan sejumlah peralatan militernya untuk Haiti, namun sampai sejauh ini belum ada negara yang menawarkan untuk memimpin pasukan di wilayah tersebut.

