RELUNG.ID — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Selatan dan Bangka Belitung menilai kebangkitan ekonomi syariah di daerah tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan aset dan produk perbankan. Penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai menjadi jalan strategis agar ekonomi syariah benar-benar terasa di sektor riil.
Kepala OJK Sumsel Babel, Arifin Susanto, mengatakan potensi UMKM lokal masih sangat besar untuk menjadi motor penggerak keuangan syariah. Namun, realisasi pembiayaan syariah ke sektor tersebut hingga kini belum mencerminkan potensi yang ada.
“UMKM sebenarnya berada di jantung ekonomi syariah, tetapi aliran pembiayaan yang masuk ke sektor ini masih belum optimal,” ujar Arifin dalam forum pembahasan perkembangan keuangan syariah, Rabu (24/12/2025).
Ia menilai salah satu kendala utama terletak pada rendahnya pemahaman masyarakat terhadap sistem dan produk keuangan syariah. Kondisi ini membuat penetrasi keuangan syariah belum mampu menandingi keuangan konvensional, meskipun skema pembiayaannya dinilai adaptif dan kompetitif.
Data OJK menunjukkan aset keuangan syariah di Sumsel masih berada pada kisaran triliunan rupiah. Angka tersebut dinilai belum mencerminkan kekuatan ekonomi daerah yang ditopang ribuan pelaku UMKM. Selain itu, pangsa pasar keuangan syariah di wilayah ini masih berada pada level satu digit, menandakan perlunya strategi yang lebih agresif dan terukur.
Meski demikian, kualitas pembiayaan perbankan syariah relatif terjaga dengan tingkat pembiayaan bermasalah yang terkendali. OJK menilai kondisi ini menjadi modal penting untuk memperluas pembiayaan ke sektor produktif tanpa mengorbankan stabilitas.
Menurut Arifin, pengembangan ekonomi syariah tidak bisa dilakukan secara parsial. Literasi, inklusi, digitalisasi layanan, hingga keterhubungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat harus berjalan bersamaan dalam satu ekosistem.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar sosialisasi, tetapi pengalaman langsung masyarakat merasakan manfaat ekonomi syariah,” jelasnya.[THQ]

