RELUNG.ID – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang nyaris tak pernah berhenti, sebuah penanda kota kembali berdiri tegak di jantung Palembang.
Di kawasan yang selama puluhan tahun dikenal warga sebagai Bundaran Air Mancur Masjid Agung, kini hadir wajah baru: Tugu Cempako Telok.
Meski tampil dengan rupa berbeda, tempat ini tetap menyimpan denyut ingatan kolektif warga kota.
Bagi masyarakat Palembang, kawasan ini bukan sekadar persimpangan jalan. Ia adalah titik temu, ruang janji, dan saksi perjalanan kota dari masa ke masa.
“Kito ketemuan di sini,” adalah kalimat sederhana yang telah diwariskan lintas generasi, meski bentuk fisiknya terus berubah.
Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang sekaligus Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, Dr Kemas AR Panji menjelaskan, bahwa air mancur telah lama menjadi bagian penting dari lanskap kota Palembang. Sebagai kota sungai yang tumbuh dari tepian Musi, unsur air tidak sekadar elemen alam, tetapi juga simbol peradaban.
“Ketika Palembang memasuki fase kota modern, air mancur menjadi penanda ruang publik. Ia melambangkan keindahan, keteraturan, dan kemajuan,” ujarnya, Kamis (1/1/2026).
Bundaran Air Mancur Masjid Agung, menurutnya, adalah ikon zamannya. Banyak memori warga terajut di tempat ini mulai dari menunggu kawan, janji pertemuan, hingga sekadar menikmati cahaya air mancur di malam hari. Dari titik inilah, kota berbicara melalui estetika dan ruang bersama.
Seiring waktu, air mancur tersebut berganti rupa. Sebuah tugu yang dibangun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina menggantikannya.
Pergantian ini menandai perubahan cara kota mengekspresikan identitas dari elemen cair yang dinamis menuju monumen yang lebih tegas dan monumental.
“Ruang kota tidak pernah statis. Ia selalu ditafsir ulang sesuai kebutuhan, selera, dan arah pembangunan di masanya,” jelas Panji.
Transformasi kembali terjadi saat Palembang dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games. Kawasan ini pun menjelma menjadi Tugu SEA Games, membawa semangat internasionalisme dan kebanggaan sebagai kota penyelenggara ajang olahraga Asia Tenggara.
Pada fase ini, Palembang tampil sebagai kota global terbuka, percaya diri, dan siap berada di panggung regional.
“Yang menarik, semua perubahan itu terjadi di titik yang sama. Ruang fisiknya tetap, tetapi pesan yang disampaikan selalu berubah,” katanya.
Kini, babak baru kembali ditulis. Tugu Cempako Telok hadir dengan pendekatan berbeda mengakar pada kearifan lokal Palembang Darussalam.
Tugu ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai simbol nilai dan filosofi hidup masyarakat Palembang.
Konsep perancangannya mengusung falsafah “Adat dipangku, syariat dijunjung”, sebuah prinsip hidup yang menegaskan bahwa adat istiadat dan syariat Islam berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menjadi fondasi kehidupan sosial, budaya, serta spiritual masyarakat Palembang sejak berabad-abad lalu.
Filosofi itu diterjemahkan secara visual melalui tiang utama yang memangku dulang, dengan bunga Cempako Telok di bagian puncaknya.
Dulang dimaknai sebagai wadah penghimpun melambangkan Palembang sebagai kota yang menaungi keberagaman etnis dan budaya dalam satu kesatuan adat.
Di bagian paling atas, terdapat ornamen Muhammad Betangkup, seni ukir khas Palembang yang lazim menghiasi puncak Rumah Limas.
Ornamen ini melambangkan sikap menjunjung tinggi syariat Islam sebagai pedoman utama kehidupan bermasyarakat.
Sementara di bagian bawah bundaran, lima bunga Cempako Telok berwarna emas tersusun mengelilingi tugu. Ornamen ini merepresentasikan perjalanan panjang peradaban Palembang dari kejayaan Sriwijaya hingga tumbuh sebagai Palembang Darussalam setelah masuknya Islam.
Lima bunga tersebut juga dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam dan lima waktu salat.
Bunga Cempako Telok sendiri, sebagai flora khas Palembang yang harum dan indah, melambangkan keindahan adat, kesucian hati, serta nilai kemanfaatan bagi sesama.
Ia mencerminkan karakter masyarakat Palembang yang menjunjung kebaikan, keharmonisan, dan kebersamaan.
Di tengah laju pembangunan kota jalan yang semakin padat dan gedung yang kian menjulang kehadiran Tugu Cempako Telok menjadi pengingat bahwa kota bukan hanya tentang beton dan aspal. Kota juga tentang ingatan, makna, dan identitas.
“Selama orang Palembang masih berkata, ‘kito ketemuan di Cempako Telok’, maka tempat itu akan tetap hidup,” terangnya.
“Apa pun wajah yang dikenakannya, ia akan selalu menjadi penanda bahwa adat dan syariat, masa lalu dan masa kini, berjalan beriringan di jantung Kota Palembang,” tutupnya. (DSK)

