Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/2026

Heboh! Nama Prajurit Ini Bikin Komandan Gemetar

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Tugu Cempako Telok: Jejak Ingatan dan Identitas Palembang di Simpul Kota
Regional

Tugu Cempako Telok: Jejak Ingatan dan Identitas Palembang di Simpul Kota

alwiBy alwi02/01/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Tugu Cempako Telok yang baru dibangun. (Handout)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang nyaris tak pernah berhenti, sebuah penanda kota kembali berdiri tegak di jantung Palembang.

Di kawasan yang selama puluhan tahun dikenal warga sebagai Bundaran Air Mancur Masjid Agung, kini hadir wajah baru: Tugu Cempako Telok.

Meski tampil dengan rupa berbeda, tempat ini tetap menyimpan denyut ingatan kolektif warga kota.

Bagi masyarakat Palembang, kawasan ini bukan sekadar persimpangan jalan. Ia adalah titik temu, ruang janji, dan saksi perjalanan kota dari masa ke masa.

Baca juga :   Gerebek Desa Tanah Periuk Musi Rawas, Polisi Tangkap Dua Orang dan Ratusan Butir Ekstasi

“Kito ketemuan di sini,” adalah kalimat sederhana yang telah diwariskan lintas generasi, meski bentuk fisiknya terus berubah.

Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang sekaligus Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, Dr Kemas AR Panji menjelaskan, bahwa air mancur telah lama menjadi bagian penting dari lanskap kota Palembang. Sebagai kota sungai yang tumbuh dari tepian Musi, unsur air tidak sekadar elemen alam, tetapi juga simbol peradaban.

“Ketika Palembang memasuki fase kota modern, air mancur menjadi penanda ruang publik. Ia melambangkan keindahan, keteraturan, dan kemajuan,” ujarnya, Kamis (1/1/2026).

Baca juga :   Curi Lima Lampu Sorot LED di PLTU Keban Agung OKU, PT SSP Merugi Rp15 Juta

Bundaran Air Mancur Masjid Agung, menurutnya, adalah ikon zamannya. Banyak memori warga terajut di tempat ini mulai dari menunggu kawan, janji pertemuan, hingga sekadar menikmati cahaya air mancur di malam hari. Dari titik inilah, kota berbicara melalui estetika dan ruang bersama.

Seiring waktu, air mancur tersebut berganti rupa. Sebuah tugu yang dibangun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina menggantikannya.

Pergantian ini menandai perubahan cara kota mengekspresikan identitas dari elemen cair yang dinamis menuju monumen yang lebih tegas dan monumental.

Baca juga :   Ustaz Firdaus yang Meninggal saat Ceramah Dikenang Dekat dengan Jemaah dan Gemar Ajak Ziarah

“Ruang kota tidak pernah statis. Ia selalu ditafsir ulang sesuai kebutuhan, selera, dan arah pembangunan di masanya,” jelas Panji.

Transformasi kembali terjadi saat Palembang dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games. Kawasan ini pun menjelma menjadi Tugu SEA Games, membawa semangat internasionalisme dan kebanggaan sebagai kota penyelenggara ajang olahraga Asia Tenggara.

Pada fase ini, Palembang tampil sebagai kota global terbuka, percaya diri, dan siap berada di panggung regional.

“Yang menarik, semua perubahan itu terjadi di titik yang sama. Ruang fisiknya tetap, tetapi pesan yang disampaikan selalu berubah,” katanya.

Baca juga :   Surat Edaran Wali Kota Tak Diindahkan, Panti Pijat dan Spa di Kota Palembang Banyak Beroperasi saat Ramadan

Kini, babak baru kembali ditulis. Tugu Cempako Telok hadir dengan pendekatan berbeda mengakar pada kearifan lokal Palembang Darussalam.

Tugu ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai simbol nilai dan filosofi hidup masyarakat Palembang.

Konsep perancangannya mengusung falsafah “Adat dipangku, syariat dijunjung”, sebuah prinsip hidup yang menegaskan bahwa adat istiadat dan syariat Islam berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menjadi fondasi kehidupan sosial, budaya, serta spiritual masyarakat Palembang sejak berabad-abad lalu.

Baca juga :   Penumpang LRT Sumsel Melonjak saat Lebaran, Tugu Cempako Telok Bawa Dampak Positif

Filosofi itu diterjemahkan secara visual melalui tiang utama yang memangku dulang, dengan bunga Cempako Telok di bagian puncaknya.

Dulang dimaknai sebagai wadah penghimpun melambangkan Palembang sebagai kota yang menaungi keberagaman etnis dan budaya dalam satu kesatuan adat.

Di bagian paling atas, terdapat ornamen Muhammad Betangkup, seni ukir khas Palembang yang lazim menghiasi puncak Rumah Limas.

Baca juga :   Malam Hari, Palembang Berpotensi Hujan Ringan

Ornamen ini melambangkan sikap menjunjung tinggi syariat Islam sebagai pedoman utama kehidupan bermasyarakat.

Sementara di bagian bawah bundaran, lima bunga Cempako Telok berwarna emas tersusun mengelilingi tugu. Ornamen ini merepresentasikan perjalanan panjang peradaban Palembang dari kejayaan Sriwijaya hingga tumbuh sebagai Palembang Darussalam setelah masuknya Islam.

Lima bunga tersebut juga dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam dan lima waktu salat.

Bunga Cempako Telok sendiri, sebagai flora khas Palembang yang harum dan indah, melambangkan keindahan adat, kesucian hati, serta nilai kemanfaatan bagi sesama.

Baca juga :   Karhutla Sumsel 2025 Menurun, OKI Tetap Jadi Titik Terpanas

Ia mencerminkan karakter masyarakat Palembang yang menjunjung kebaikan, keharmonisan, dan kebersamaan.

Di tengah laju pembangunan kota jalan yang semakin padat dan gedung yang kian menjulang kehadiran Tugu Cempako Telok menjadi pengingat bahwa kota bukan hanya tentang beton dan aspal. Kota juga tentang ingatan, makna, dan identitas.

“Selama orang Palembang masih berkata, ‘kito ketemuan di Cempako Telok’, maka tempat itu akan tetap hidup,” terangnya.

“Apa pun wajah yang dikenakannya, ia akan selalu menjadi penanda bahwa adat dan syariat, masa lalu dan masa kini, berjalan beriringan di jantung Kota Palembang,” tutupnya. (DSK)

Kemas AR Panji Kota Palembang SEA Games Sejarahwan Palembang TACB Tugu Cempako Telok
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleAkhir Pencarian 7 Hari Bocah Palembang di Sungai Komering, Ditemukan Puluhan Kilometer dari Lokasi Tenggelam
Next Article Prakiraan Cuaca: Palembang Bakal Kembali Diguyur Hujan di Malam Hari
alwi

Related Posts

Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Regional

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/20266 Views
Regional

Heboh! Nama Prajurit Ini Bikin Komandan Gemetar

11/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,957 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,826 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,799 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?