RELUNG.ID — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Selatan masih menghadapi tantangan serius di tingkat dapur layanan. Data Dinas Kesehatan Sumsel menunjukkan belum semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) siap sepenuhnya dari sisi keamanan pangan, meski program tersebut menyasar kelompok rentan dan berskala besar.
Dari total 503 SPPG yang beroperasi di berbagai daerah, baru 361 unit yang dinyatakan memenuhi standar higiene dan sanitasi. Artinya, sekitar seperempat lebih fasilitas penyedia makanan masih harus mengejar persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebelum benar-benar dinilai aman.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumsel, Dedy Irawan, menegaskan bahwa sertifikasi ini bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan fondasi utama dalam menjamin kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat.
“SLHS penting untuk mencegah risiko kontaminasi, termasuk bakteri E. coli dan bahan berbahaya lainnya. Ini menyangkut kesehatan penerima manfaat MBG,” ujar Dedy, Minggu (18/1/2026).
Menurut Dedy, sebagian besar SPPG yang belum bersertifikat terkendala pada aspek teknis. Mulai dari nilai Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang belum memenuhi ambang batas, hingga sarana dasar seperti ketersediaan air bersih dan sistem pengelolaan limbah yang belum sesuai standar.
Selain itu, proses uji laboratorium terhadap sampel makanan dan air juga menjadi tahapan krusial yang kerap memakan waktu. Keterlambatan hasil uji ini berdampak langsung pada lamanya proses penerbitan SLHS.
“Kalau persyaratan teknis cepat dipenuhi, proses sertifikasinya sebenarnya tidak lama. Yang sering jadi masalah adalah kesiapan sarana prasarana,” jelasnya.
Untuk mengejar ketertinggalan, Dinkes Sumsel mengintensifkan pembinaan dan pendampingan kepada pengelola SPPG. Pendekatan ini dilakukan agar perbaikan fasilitas dan prosedur bisa berjalan paralel dengan proses verifikasi, tanpa menghambat jalannya program MBG.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu mendorong seluruh SPPG mencapai standar minimal keamanan pangan dalam waktu dekat, sekaligus meminimalkan potensi gangguan kesehatan pada penerima program.
“Target kami jelas, makanan yang disalurkan harus aman, bersih, dan layak konsumsi. Itu kunci keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis,” kata Dedy.[THQ]

