RELUNG.ID — Arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia pada pertengahan Januari 2026 menjadi sinyal perubahan strategi investor global, bukan cerminan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) menilai dinamika ini masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu stabilitas nilai tukar Rupiah.
Data BI menunjukkan investor nonresiden melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi kepemilikan pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sembari tetap mempertahankan minat pada pasar saham domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pada periode 12–14 Januari 2026 tercatat aksi jual bersih di pasar keuangan domestik. Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung merata di seluruh instrumen.
“Investor asing mencatatkan jual bersih di SBN dan SRBI, namun pada saat yang sama masih membukukan beli bersih di pasar saham,” ujar Denny, Minggu (18/1).
Di tengah arus keluar modal tersebut, nilai tukar Rupiah menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Pada penutupan perdagangan 14 Januari 2026, Rupiah berada di level Rp 16.855 per dolar AS dan kembali menguat tipis pada pembukaan perdagangan hari berikutnya.
Stabilitas Rupiah ini terjadi meski premi risiko Indonesia, yang tercermin dari credit default swap (CDS) tenor lima tahun, mengalami kenaikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih merespons dinamika global secara hati-hati, namun belum mengarah pada sentimen negatif yang berlebihan.
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat naik, sejalan dengan penyesuaian imbal hasil global. Sementara itu, pelemahan indeks dolar AS dan penurunan yield US Treasury memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk tetap bergerak stabil.
Menariknya, secara kumulatif sejak awal 2026, investor asing masih mencatatkan beli bersih di pasar saham dan instrumen SRBI. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia tetap dipandang memiliki prospek yang menarik, meski investor lebih selektif dalam menempatkan dananya.
“Pergerakan ini mencerminkan strategi penyesuaian portofolio, bukan arus keluar yang bersifat struktural,” kata Denny.[THQ]

