RELUNG.ID – Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang 2025 menunjukkan perlambatan. Nilai ekspor tercatat sekitar US$ 6,33 miliar, turun 5,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pelemahan ini terutama dipicu menurunnya ekspor batu bara dan lignit, komoditas yang selama ini menjadi penopang utama perdagangan luar negeri daerah.
Statistik Ahli Madya BPS Sumsel, Intan Yudistri Pebrina, menjelaskan bahwa meski total ekspor menurun, sejumlah komoditas nonmigas justru mengalami pertumbuhan. Dari sepuluh komoditas nonmigas dengan nilai terbesar, sebagian besar mencatat kenaikan sepanjang 2025.
“Kenaikan tertinggi terjadi pada komoditas karet dan barang dari karet yang bertambah sekitar US$ 130,52 juta atau naik 9,67 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Namun, dominasi batu bara dalam struktur ekspor membuat penurunan sektor tersebut berdampak besar terhadap kinerja keseluruhan. Data BPS menunjukkan batu bara dan lignit masih menyumbang sekitar 40,86 persen dari total ekspor Sumsel, dengan nilai mencapai US$ 2,43 miliar. Nilai ini merosot 16,46 persen atau berkurang sekitar US$ 478,77 juta dibandingkan 2024.
Menurut Intan, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal, terutama turunnya permintaan di pasar global serta kecenderungan transisi menuju energi baru terbarukan di berbagai negara tujuan ekspor.
“Penurunan terjadi karena permintaan global berkurang, bukan akibat pembatasan dari daerah,” tegasnya, seraya memastikan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan kebijakan larangan angkutan batu bara di jalan umum Sumsel.
Di sisi lain, produksi batu bara Sumsel masih berada pada level tinggi. Data Dinas ESDM mencatat produksi Januari–November 2025 mencapai sekitar 104 juta ton. Dari jumlah itu, 53 juta ton diekspor, sementara 51 juta ton diserap pasar domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).[THQ]

