RELUNG.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut menyeret Israel memantik kewaspadaan di dalam negeri. Di Sumatera Selatan, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) bergerak cepat menyusun langkah mitigasi guna memastikan keselamatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal daerah tersebut.
Meski hingga kini tidak ada PMI asal Sumsel yang tercatat bekerja di Iran, Israel, maupun Amerika Serikat, BP3MI Provinsi Sumsel tetap meningkatkan status siaga. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya eskalasi konflik ke negara-negara sekitar.
Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Provinsi Sumsel, Waydinsyah, menyebut pihaknya telah memetakan keberadaan PMI asal Sumsel di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data tahun 2024–2025, tercatat 16 PMI bekerja di sejumlah negara seperti Kuwait, Abu Dhabi, Dubai, Arab Saudi, dan Oman.
“Situasi masih terus kami pantau. Jika terjadi eskalasi yang berdampak langsung pada negara penempatan PMI asal Sumsel, kami telah menyiapkan skema koordinasi lintas kementerian untuk proses evakuasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, skema tersebut akan melibatkan perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri serta jalur komunikasi cepat dengan keluarga PMI di kampung halaman. Pendataan diperbarui secara berkala untuk memastikan setiap pekerja migran terpantau kondisinya.
Selain menyiapkan jalur evakuasi, BP3MI Sumsel juga membuka kanal pelaporan bagi masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di kawasan berisiko. Pelaporan ini dinilai penting agar proses perlindungan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi keadaan darurat.
“Kami mengimbau keluarga PMI proaktif melapor dan memperbarui data kontak. Ini bagian dari perlindungan preventif agar tidak ada yang terlewat saat situasi berubah cepat,” tegas Waydinsyah.[THQ]
