RELUNG.ID- Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Palembang menemukan sejumlah bahan pangan yang mengandung formalin saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Inpres Muara Enim, Kamis (13/3/2026).
Dalam kegiatan pengawasan tersebut, tim dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Palembang melakukan pengambilan sampel terhadap berbagai produk pangan yang dijual para pedagang di pasar.
Ketua Tim Kerja Fungsi Pemeriksaan BBPOM Palembang, Aquirina Leonora, mengatakan pihaknya melakukan uji cepat terhadap 22 sampel makanan.
“Dari 22 sampel ini ternyata ditemukan 9 sampel terdiri dari 7 tahu dan 2 mi yang tidak memenuhi syarat karena terdapat kandungan formalin,” ujarnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, BBPOM langsung mengambil langkah persuasif dengan menyita produk yang terindikasi mengandung bahan berbahaya untuk kemudian dimusnahkan.
“Karena kegiatan ini tujuannya untuk perlindungan kesehatan masyarakat,” kata Nora.
Selain melakukan penindakan terhadap pedagang, BBPOM juga berencana menelusuri produsen yang diduga menggunakan formalin pada produk pangan tersebut. Upaya itu akan dilakukan melalui kerja sama dengan aparat penegak hukum serta instansi terkait.
“Kita akan bekerja sama dengan lintas sektor, seperti kepolisian, Satpol PP, dan Dinas Perdagangan untuk menelusuri produsennya,” tuturnya.
Nora juga mengimbau masyarakat agar lebih teliti dalam memilih bahan pangan, khususnya produk segar seperti tahu dan mi basah. Ia menjelaskan bahwa produk tersebut pada umumnya tidak dapat bertahan lama jika disimpan pada suhu ruang tanpa bahan pengawet.
“Kalau produk seperti tahu dan mi basah ini disimpan lebih dari tiga hari di suhu ruang dan ternyata masih tahan, ada risiko menggunakan bahan berbahaya,” jelasnya.
Menurutnya, secara alami makanan tanpa pengawet akan mengalami perubahan setelah beberapa hari.
“Umumnya produk seperti tahu putih dan mi basah jika disimpan lebih dari tiga hari di suhu ruang bisa basi, asam, dan berlendir. Kalau masih awet berarti ada tambahan bahan tertentu di dalamnya, dan untuk membuktikannya harus diuji di laboratorium,” pungkasnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang tahu di pasar tersebut, Misnawati (46), mengaku telah berjualan tahu selama sekitar dua tahun. Ia biasanya mengambil pasokan tahu dari wilayah Transosial sejak pukul 03.00 WIB untuk dijual kembali di pasar.
“Kita mengambil tahu dari Transosial dari jam 3 pagi untuk dijual di pasar,” ujar Misna.
Ia mengaku pernah mengingatkan produsen agar tidak menggunakan formalin dalam proses pembuatan tahu. Namun menurutnya, sebagian konsumen justru lebih memilih tahu yang lebih tahan lama.
“Tapi pembeli yang langganan juga tidak mau beli tahu yang tidak pakai formalin, meski sudah dikasih tahu yang lebih bagus,” katanya.
Misna berharap pemerintah dan instansi terkait dapat memberikan edukasi lebih luas kepada masyarakat mengenai bahaya bahan pangan yang mengandung formalin.
“Kita sebagai pedagang juga cuma bisa mengingatkan, tapi pembeli maunya tahu yang lebih awet,” tutupnya.[NVS]

