RELUNG.ID — Momen Idulfitri 1447 Hijriah diproyeksikan kembali menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Meski jumlah pemudik sedikit menurun, potensi perputaran uang selama Lebaran 2026 justru diperkirakan tetap besar, bahkan menembus Rp148 triliun.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menilai penurunan tipis jumlah pemudik tidak berpengaruh signifikan terhadap geliat ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pergerakan masyarakat tetap tinggi, mencapai 143,9 juta orang atau lebih dari separuh populasi Indonesia.
Menurutnya, kuatnya daya dorong ekonomi saat Lebaran tahun ini tidak lepas dari berbagai stimulus yang digelontorkan pemerintah. Mulai dari diskon transportasi, potongan tarif tol, hingga pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN dan pekerja swasta.
“Stimulus ini membuat masyarakat tetap memiliki daya beli dan minat tinggi untuk mudik serta berbelanja,” ujarnya, Sabtu (21/3).
Pemerintah diketahui mengalokasikan ratusan miliar rupiah untuk subsidi transportasi di berbagai moda, termasuk kereta api, kapal laut, hingga tiket pesawat kelas ekonomi. Di sisi lain, aliran dana THR yang mencapai ratusan triliun rupiah juga menjadi pendorong utama perputaran uang di daerah.
Tak hanya itu, tambahan likuiditas juga datang dari bonus hari raya bagi mitra ojek online serta kebijakan kerja fleksibel yang memberi ruang bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan lebih leluasa.
Dengan asumsi rata-rata pengeluaran keluarga sekitar Rp4,1 juta, total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp148,39 triliun. Angka ini bahkan berpotensi meningkat hingga lebih dari Rp160 triliun jika belanja masyarakat lebih tinggi.
Perputaran uang tersebut diprediksi akan tersebar luas, terutama di wilayah Jawa, serta merata ke berbagai daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. Aktivitas ekonomi pun meningkat, mulai dari sektor transportasi, pariwisata, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Untuk mengantisipasi tingginya transaksi, Bank Indonesia telah menyiapkan uang tunai dalam jumlah besar guna memastikan kelancaran peredaran uang selama periode Lebaran.
Sarman menilai, lonjakan konsumsi rumah tangga yang diperkirakan meningkat 10 hingga 15 persen menjadi momentum penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada kuartal pertama tahun 2026.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas pasokan energi di tengah dinamika global. Kepastian ketersediaan bahan bakar dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan masyarakat agar tetap berbelanja dan beraktivitas selama Lebaran.[THQ]

