RELUNG.ID — Menghadapi arus balik Lebaran 2026, Korlantas Polri mulai mematangkan strategi pengendalian lalu lintas. Evaluasi selama periode mudik menjadi dasar utama dalam menyusun skenario, terutama untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan yang diperkirakan lebih tinggi.
Kakorlantas Polri, Agus Suryonugroho, menyebut peningkatan volume kendaraan saat arus mudik menjadi sinyal kuat bahwa arus balik akan lebih padat.
“Terjadi kenaikan signifikan saat mudik, sehingga arus balik harus kita antisipasi dengan lebih matang,” ujarnya, Sabtu (21/3).
Ia menjelaskan, pergerakan kendaraan menuju wilayah Jawa Barat dan jalur Trans Jawa menjadi perhatian utama. Sekitar 30 hingga 35 persen kendaraan diperkirakan mengarah ke Jawa Barat, sementara hampir 66 persen lainnya berasal dari jalur Trans Jawa.
Distribusi tersebut akan menjadi dasar pengaturan lalu lintas, termasuk pemanfaatan jalur alternatif seperti Japek II Selatan dan Bocimi guna mengurangi beban di ruas utama.
Untuk mengurai kepadatan, Korlantas menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas secara bertahap. Mulai dari penerapan contraflow di beberapa titik hingga skema one way lokal yang bisa diberlakukan lebih awal jika diperlukan.
“Jika volume kendaraan tinggi, kami akan terapkan one way lokal secara bertahap, termasuk contraflow di beberapa ruas,” jelasnya.
Puncak arus balik sendiri diprediksi terjadi pada 24 Maret 2026. Pada periode tersebut, Korlantas membuka peluang penerapan one way nasional guna memastikan arus kendaraan tetap bergerak dan tidak terjebak kemacetan panjang.[THQ]

