RELUNG.ID – Kasus suspek campak di Kabupaten Muara Enim yang sempat meningkat pada awal 2026 kini mulai berangsur turun.
Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan guna mencegah potensi penyebaran lebih luas.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Muara Enim memastikan berbagai langkah pencegahan terus dijalankan secara intensif. Hal ini menyusul meningkatnya kejadian luar biasa (KLB) campak di sejumlah daerah di Indonesia.
Kepala Dinkes Muara Enim, Eni Zatila, mengatakan pihaknya telah menerima peringatan dini dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan sejak Januari 2026.
“Sejak awal tahun kami sudah diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Dari Januari hingga Maret 2026, terdapat 77 kasus suspek campak yang tersebar di 13 puskesmas,” ujarnya.
Kasus terbanyak tercatat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Enim dengan 28 kasus. Disusul Puskesmas Muara Enim sebanyak 19 kasus dan Puskesmas Ujan Mas 13 kasus. Sementara itu, sisanya tersebar di beberapa wilayah lain seperti Gunung Megang, Beringin, hingga Gelumbang.
Dari total kasus tersebut, baru sebagian yang telah menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, dari 15 sampel yang diperiksa, dua dinyatakan positif campak, sementara 13 lainnya negatif.
Kasus positif ditemukan di Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul dan Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Agung.
Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes Muara Enim melakukan berbagai langkah strategis. Mulai dari imunisasi kejar campak, sosialisasi di wilayah terdampak, hingga edukasi langsung kepada masyarakat.
Selain itu, penyebaran informasi juga dilakukan melalui media sosial guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
Di tingkat provinsi, KLB campak dilaporkan terjadi di beberapa daerah seperti Palembang, Banyuasin, Musi Rawas Utara, dan Prabumulih.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun tren kasus mulai menurun. Kelengkapan imunisasi, khususnya pada anak, menjadi langkah utama dalam mencegah munculnya kasus baru,” tutupnya. (NVS)

