RELUNG.ID – Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan mediator Pakistan. Teheran menegaskan bahwa penghentian konflik harus bersifat permanen, bukan sekadar jeda sementara di tengah eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan Islamic Republic News Agency (IRNA), pemerintah Iran mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Persyaratan tersebut mencakup penghentian ketegangan di kawasan Timur Tengah, pengaturan khusus di jalur strategis Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, hingga dukungan rekonstruksi pascakonflik. (kalimat tidak langsung)
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran agar segera membuka akses pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi paling vital di dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu gejolak ekonomi global.
“Iran dapat disingkirkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump, Senin (6/4/2026).
Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika tuntutan pembukaan jalur pelayaran tidak dipenuhi sesuai tenggat waktu yang ditetapkan. Pernyataan keras tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas kawasan.
Sementara itu, Iran tetap menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus mengarah pada stabilitas jangka panjang, bukan sekadar kesepakatan sementara yang berpotensi memicu ketegangan baru di kemudian hari. Sikap ini menandakan perbedaan pendekatan antara pihak yang mendorong penghentian cepat konflik dan pihak yang menginginkan kesepakatan komprehensif.[THQ]

