RELUNG.ID- Rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi untuk kembali berkeliling Indonesia mulai Juni 2026 menuai berbagai penafsiran politik.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai agenda tersebut tidak bisa dilepaskan dari gaya blusukan yang selama ini menjadi ciri khas Jokowi sejak masih menjabat sebagai pejabat publik.
“Tentu secara normatif harus diakui bahwa salah satu diferensiasi politik yang ada pada Jokowi adalah soal blusukan,” kata Adi dalam program Kompas TV, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, istilah blusukan sudah sangat melekat pada sosok Jokowi sehingga tidak mengherankan apabila mantan Presiden RI itu tetap memilih turun langsung menyapa masyarakat meski sudah tidak lagi menjabat.
Meski begitu, Adi menyebut publik tetap bisa menafsirkan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga pengaruh politik Jokowi ke akar rumput.
“Ada tafsir-tafsir yang terus berembus kencang. Misalnya soal bagaimana Pak Jokowi ingin terus melakukan penetrasi politik ke akar rumput supaya pengaruh politiknya itu akan semakin signifikan, terutama menghadapi pertarungan politik di masa yang akan datang,” ujarnya.
Adi juga menyinggung kedekatan Jokowi dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Menurutnya, sebagian pihak menilai Jokowi masih memiliki kekuatan politik yang besar meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden. Namun di sisi lain, ada pula yang menganggap pengaruh Jokowi tidak sekuat sebelumnya.
Ia mencontohkan kegagalan PSI lolos ke Senayan pada Pemilu 2024 meski saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Presiden RI.
“Publik melihat ada intensi elektoral yang sepertinya ingin dicapai, yaitu bagaimana pengaruh politik Jokowi akan semakin dirasakan,” kata Adi.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Pro Jokowi (Projo), Freddy Alex Damanik menyebut kondisi kesehatan Jokowi sudah pulih 99 persen dan siap kembali menyapa masyarakat di berbagai daerah.
“Kesehatannya sudah pulih 99 persen, dan rencananya bulan depan beliau sudah akan keliling Indonesia kembali untuk menyapa masyarakat,” ujar Freddy.
Sementara itu, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli menilai agenda keliling Indonesia yang dilakukan Jokowi mengandung pesan politik tersendiri.
“Pertama, ini pesan halus sekaligus ancaman bagi Prabowo. Jokowi ingin menyatakan: ‘Saya masih diperhitungkan’,” kata Guntur Romli.
Menurutnya, langkah tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya menjaga pengaruh politik keluarga Jokowi menuju kontestasi politik 2029, termasuk mempertahankan dukungan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Atau, ini persiapan jangka panjang menyaingi 2029, menjaga pengaruh dinasti Jokowi di tengah Prabowo yang punya basis sendiri,” ujarnya.[YKP]

