RELUNG.ID – Misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan untuk warga Gaza mendadak berubah menjadi situasi mencekam setelah sejumlah kapal dicegat tentara Israel di perairan internasional, Senin (18/5/2026). Dalam insiden tersebut, empat warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai jurnalis dilaporkan hilang kontak dan diduga ditahan.
Para WNI yang berada dalam armada kemanusiaan itu diketahui sempat mengirimkan sinyal darurat atau SOS sebelum komunikasi terputus. Pesan tersebut dikirim sebagai bagian dari protokol keamanan pelayaran internasional yang telah disiapkan sejak keberangkatan misi.
Berdasarkan data Global Sumud Flotilla, empat jurnalis Indonesia yang diduga ditahan berada di kapal berbeda. Mereka yakni Thoudy Badai yang berada di Kapal Ozgurluk, Rahendro Herubowo dari Kapal Ozgurluk, Bambang Noroyono di Kapal Boralize, serta Andre Prasetyo Nugroho yang juga berada di Kapal Ozgurluk.
Selain para jurnalis, seorang aktivis Indonesia bernama Andi Angga yang berada di Kapal Josef juga dilaporkan mengalami kondisi serupa.
Sementara itu, beberapa WNI lainnya dikabarkan masih berada dalam perjalanan menuju wilayah sekitar Gaza menggunakan kapal berbeda. Mereka adalah Ronggo Wirasnu dan Herman Budianto di Kapal Zefiro, serta As’ad Aras dan Hendro Prasetyo di Kapal Kasri Sadabat.
Aktivis sekaligus seniman Indonesia, Chiki Fawzi, mengecam keras tindakan pencegatan tersebut. Menurut dia, armada Global Sumud Flotilla membawa misi kemanusiaan dan tidak memiliki tujuan militer.
“Kita bukan penjahat. Kita tidak melakukan kesalahan apa pun. Kami diculik di perairan internasional,” ujar Chiki, Selasa (19/5/2026).
Insiden ini memicu perhatian publik karena melibatkan jurnalis Indonesia yang tengah menjalankan peliputan misi kemanusiaan internasional untuk Gaza. Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pemerintah Israel terkait keberadaan para awak kapal maupun kondisi para WNI yang berada di dalam armada tersebut.[THQ]

