RELUNG.ID – Ribuan pengemudi ojek online (ojol) di Palembang mendatangi Kantor Gubernur Sumsel, Senin (2/9).
Kedatangan mereka ini untuk menyampaikan enam tuntutan terkait penyesuaian tarif yang dinilai tidak adil.
Dalam orasinya, salah satu pengemudi online, Salim mengatakan akibat kebijakan tarif batas bawah dan batas atas yang berbeda antara aplikator membuat terjadinya perang tarif sehingga pendapatan mereka pun turun drastis.
“Kalau kami dapat uang 50 ribu kami tidak boleh pulang oleh istri kami, tapi kalau kami pulang bawa uang 150 ribu, atau 200 ribu papa pulang mama digoyang,”cetusnya.
Karena itu, mereka pun meminta Pemprov Sumsel untuk membantu ojol dalam membuat kebijakan untuk menentukan batas tarif bawah dan batas tarif atas transportasi online.
Mengingat saat ini semua harga kebutuhan pokok seperti beras, BBM dan lainnya naik.
“Boro boro mau beli emas untuk makan saja sulit ditambah lagi dengan adanya kebijakan aplikator tambah sulit hidup kami,” katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Driver Online (ADO) Sumsel, Asrul Indrawan menambahkan, seluruh pengemudi ojol di Sumsel meminta agar Pj Gubernur Sumsel dapat membuat peraturan terkait ketentuan tarif transportasi online agar tidak saling berperang antar driver.
Menurutnya, perang tarif ini tentunya mematikan driver karena terlalu rendah dan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan driver.
Dia pun mencontohkan tarif yang ada sekarang hanya Rp1.200 hingga Rp 1.500 per kilometer, bahkan per 4 kilometer hanya Rp5.000.
Sedangkan bensin saja satu liter Rp10 ribu, itu pun paling hanya bisa untuk jarak tempuh 6 kilometer.
“Itu belum macetnya dan lainnya,” katanya.
Berikut enam tuntutan ojol di Palembang, tolak tarif di bawah regulasi, sesuaikan harga delivery semua aplikasi, hapuskan goceng, slot, shopee hub dan untuk grab nego kami dengan tegas menolak masuk di Palembang. (FZI)

