RELUNG.ID — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memilih pendekatan kewaspadaan berbasis edukasi dalam menyikapi potensi masuknya Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai Super Flu. Dinas Kesehatan Sumsel menegaskan situasi masih terkendali dan belum menunjukkan indikasi darurat kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, menyampaikan bahwa langkah pencegahan dilakukan dengan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, bukan dengan menciptakan kepanikan.
“Kami menekankan kesiapsiagaan dan pemahaman masyarakat. Belum ada status darurat, namun deteksi dini tetap kami perkuat,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).
Menurut Ira, varian yang ramai diperbincangkan tersebut masih termasuk dalam keluarga virus influenza yang selama ini telah dikenal dunia medis. Ia menyebut, Indonesia juga sudah berpengalaman menghadapi berbagai jenis influenza, termasuk yang berasal dari hewan, dengan tingkat penularan ke manusia yang relatif rendah.
Meski demikian, Dinkes Sumsel meminta masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatan diri dan lingkungan. Gejala seperti demam tinggi mendadak, batuk, nyeri otot, lemas ekstrem, hingga gangguan pernapasan perlu diwaspadai, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Sebagai upaya pencegahan, pemerintah daerah akan mengintensifkan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk etika batuk, penggunaan masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci tangan. Pemantauan kasus influenza juga diperketat melalui sistem surveilans penyakit, baik pada kasus ringan maupun berat.
Selain sektor kesehatan, Dinkes Sumsel juga menjalin koordinasi dengan instansi terkait, termasuk bidang peternakan, untuk memantau kemungkinan penularan penyakit dari hewan ke manusia.
“Sinergi lintas sektor menjadi kunci agar potensi risiko bisa dideteksi lebih awal,” jelas Ira.[THQ]

