RELUNG.ID- Banjir bandang yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026) menewaskan sedikitnya 157 orang dan menyebabkan ratusan orang lainnya masih hilang.
Bencana tersebut terjadi setelah material es, batuan dan lumpur dari kawasan Himalaya runtuh ke aliran sungai dan memicu gelombang banjir besar yang bergerak menuju wilayah lembah di Nepal. Data awal juga mencatat sedikitnya 384 wisatawan dan pelancong dilaporkan hilang di wilayah terdampak.
Peristiwa ini sempat diduga dipicu gempa bumi. Namun, analisis lanjutan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyimpulkan bahwa getaran seismik yang tercatat bukan disebabkan gempa, melainkan oleh runtuhan gletser dan aliran material longsoran.
USGS menyebut peristiwa seismik berkekuatan sekitar magnitudo 5,2 tercatat di dekat perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus. Setelah menganalisis data stasiun seismik dan citra satelit, lembaga tersebut menyimpulkan bahwa sumber getaran berasal dari runtuhan gletser dan aliran material, bukan gempa bumi.
Pakar geofisika dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, Göran Ekström, sebelumnya mengatakan kepada ABC News bahwa sebuah longsoran besar di kawasan pegunungan kemungkinan menghantam dan meluruhkan sebagian gletser.
Material berupa batuan dan es kemudian bergerak turun ke lembah dan membawa air dalam volume sangat besar.
Ekström menyebut peristiwa tersebut sebagai peristiwa geofisika berskala masif. Energi dari material yang meluncur turun dari pegunungan begitu besar hingga menghasilkan sinyal seismik yang terdeteksi oleh seismograf.
Menurut perkiraannya, campuran es, material longsoran dan air bergerak dengan kecepatan sangat tinggi menuju lembah. Ketinggian gelombang banjir bahkan diperkirakan dapat mencapai sekitar 39 hingga 48 meter, dengan kecepatan aliran hingga sekitar 71 kilometer per jam.
Ekström juga menyoroti perubahan iklim yang mempercepat pencairan es dan gletser di berbagai wilayah dunia.
Menurutnya, peristiwa longsor dan runtuhan gletser seperti ini tetap dapat terjadi tanpa perubahan iklim. Namun, meningkatnya pencairan gletser berpotensi membuat kawasan pegunungan semakin rentan terhadap kejadian serupa.
Sejumlah ahli juga menyebut longsoran di kawasan pegunungan Himalaya semakin sering terjadi dan kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan pada gletser.
Bencana tersebut berdampak luas di sepanjang kawasan sungai dan lembah. Rumah, jalan, jembatan serta sejumlah fasilitas lainnya rusak atau tersapu arus.
Di Nepal, sedikitnya 157 jenazah telah ditemukan. Sementara itu, data Nepal Tourism Board mencatat 384 orang masih dilaporkan hilang, terdiri dari 291 warga asing dan 93 warga Nepal.
Di sisi Tibet, otoritas China juga melaporkan korban jiwa dan ratusan orang hilang akibat bencana yang sama. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di tengah kondisi medan yang sulit dan risiko longsor susulan.
Bencana ini menjadi salah satu kejadian banjir paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menunjukkan besarnya risiko yang dapat muncul dari ketidakstabilan gletser dan lereng pegunungan.[YKP]

