RELUNG.ID – Awal tahun 2026 menjadi periode rawan bencana bagi Sumatera Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat 23 kejadian bencana terjadi sejak Januari hingga awal Februari, dengan banjir sebagai bencana paling dominan yang melanda sejumlah kabupaten dan kota.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menyebut dari total kejadian tersebut, 16 di antaranya merupakan banjir, disusul tanah longsor, angin kencang, serta banjir bandang. Kondisi ini menunjukkan tingginya dampak cuaca ekstrem di wilayah Sumsel pada awal tahun.
“Banjir masih menjadi ancaman utama, terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap curah hujan,” kata Sudirman, Selasa (10/2/2026).
Berdasarkan data BPBD, OKU Selatan tercatat sebagai daerah dengan frekuensi bencana tertinggi, yakni empat kejadian dalam kurun waktu singkat. Wilayah tersebut menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah daerah dan BPBD untuk penanganan dan mitigasi lanjutan.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan pada lingkungan, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Puluhan ribu rumah warga terdampak genangan banjir, dengan sebagian di antaranya mengalami kerusakan berat. Ribuan kepala keluarga harus beradaptasi dengan kondisi darurat, bahkan ratusan di antaranya terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Selain permukiman, fasilitas publik turut mengalami kerusakan. Sejumlah sekolah, fasilitas kesehatan, hingga jembatan dilaporkan terdampak, sehingga mengganggu aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, dan mobilitas warga.
BPBD Sumsel mengingatkan bahwa potensi bencana masih belum berakhir. Berdasarkan informasi dari BMKG, musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga Mei 2026, sehingga risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya masih cukup tinggi.
“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Langkah mitigasi dan respons cepat sangat penting untuk meminimalkan dampak bencana,” ujarnya.[THQ]

