RELUNG.ID – Bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum juga tiba hingga Sabtu (29/8/2026). Meski demikian, Gubernur Sumsel Herman Deru meminta seluruh pihak tidak menunggu bantuan pusat untuk bergerak menghadapi kebakaran.
Bantuan tersebut sebelumnya dijanjikan Presiden Prabowo saat melakukan kunjungan ke Sumsel pada 24 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Sumsel kini masih menunggu proses pengiriman sejumlah peralatan yang dibutuhkan untuk memperkuat penanganan karhutla.
Deru mengatakan, bantuan tersebut kemungkinan masih dalam tahap persiapan dan pengepakan sebelum dikirim ke Sumsel.
“Soal bantuan Presiden belum sampai. Ya, tunggu saja, mungkin Senin atau dalam proses pengiriman, belum sampai. Kan baru beberapa hari dari tanggal 24 Agustus. Mungkin masih di-packing,” kata Deru saat ditemui di BPBD Sumsel, Sabtu (29/8/2026).
Sejumlah bantuan yang diminta untuk mendukung penanganan karhutla di antaranya 100 unit motor trail, sumur bor, pompa air dan peralatan pendukung lainnya.
Menurut Deru, bantuan tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk menghadapi karhutla pada tahun ini. Peralatan seperti pompa air dan sumur bor diharapkan dapat menjadi aset penanganan kebakaran untuk jangka panjang.
“Itu kan tahan lama. Mesin air (pompa) bisa digunakan bertahun-tahun, sumur bor juga bisa bertahun-tahun. Kita minta yang bisa untuk berkepanjangan,” jelasnya.
Sembari menunggu bantuan pusat, Deru menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mendeteksi dan menangani kebakaran sejak dini.
Ia meminta masyarakat tidak bersikap apatis ketika melihat munculnya titik api, termasuk ketika lokasi kebakaran berada di luar lingkungan atau lahan milik mereka.
Perusahaan perkebunan, pertambangan dan sektor kehutanan juga diminta memiliki kepedulian yang sama.
“Pesannya kalau bisa, kita sama-sama menanggulangi karhutla ini. Jangan apatis semua pihak, baik perorangan, apalagi perkebunan, pertambangan, kehutanan. Jangan apatis, mentang-mentang bukan tempat dia, diam saja,” tegasnya.
Dirinya juga mendorong kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) ikut menjadi bagian dari sistem kewaspadaan di tingkat masyarakat.
Menurutnya, kepedulian warga di sekitar lokasi kebakaran dapat menjadi lapisan pertama untuk mempercepat penyampaian informasi kepada petugas.
“Gapoktan-gapoktan juga akan kita libatkan untuk mengingatkan. Meskipun itu bukan di ladangnya, minimal ada perhatian,” katanya.[THQ]

