RELUNG.ID – Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dirasakan manfaatnya bagi peningkatan gizi anak-anak Indonesia. Namun di Sumatera Selatan (Sumsel), pelaksanaannya masih jauh dari kata maksimal.
Ketua Komisi V DPRD Sumsel, Alwis Gani, mengungkapkan bahwa dari total 798 dapur MBG yang direncanakan beroperasi di 17 kabupaten/kota, baru sekitar 30 persen yang benar-benar berjalan melayani anak-anak penerima manfaat.
“Program ini sangat baik untuk menekan angka stunting dan meningkatkan gizi anak-anak. Tapi memang, pelaksanaannya masih banyak perlu pembenahan, terutama dalam manajemen dan dukungan logistik,” kata Alwis di Palembang, Senin (6/10/2025).
Menurutnya, biaya pembangunan dapur yang mencapai Rp2 miliar per unit menjadi kendala utama dalam percepatan realisasi. Selain itu, sejumlah daerah juga menghadapi keterbatasan bahan baku pangan, terutama di wilayah terpencil.
“Hambatannya pertama biaya dapur yang tinggi, kedua pasokan bahan baku belum merata di semua wilayah,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Alwis mendorong sinergi lintas sektor, termasuk pelibatan koperasi lokal dan UMKM agar pasokan bahan makanan dapur MBG bisa lebih stabil.
“Misalnya dengan melibatkan koperasi merah putih untuk mendukung suplai bahan dapur. Kita juga harus atur kuota produksi supaya makanan tidak berlebihan dan tetap layak konsumsi,” tambahnya.
Politisi Partai Gerindra itu juga menekankan perlunya pengawasan ketat dan profesionalisme pelaksana program, agar tidak terjadi penyimpangan maupun pemborosan anggaran.
“Idealnya, 798 dapur itu bisa beroperasi semua agar target penerima manfaat tercapai. Tapi di daerah pedalaman memang masih belum terlayani. Ini harus jadi fokus perbaikan ke depan,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Alwis tetap menilai program MBG sebagai terobosan strategis pemerintah pusat untuk memperbaiki kualitas gizi anak bangsa dan menggerakkan ekonomi lokal.[THQ]

