RELUNG.ID – Konflik Israel dan Palestina di Gaza terus terjadi hingga saat ini.
Kini, ribuan warga di Gaza pun mulai mengevakuasi diri dari Gaza Utara menuju wilayah Selatan.
Hal ini menyusul perintah Israel yang bakal membombardir wilayah tersebut.
Baca Juga: Saat Bayi Bonney Tidur di Dalam Kerangka Besi
Terlihat, mereka pun berjalan kaki dengan membawa sejumlah atribut bendera putih tanda menyerah dan berharap mendapat jaminan keselamatan selama perjalanan.
Mereka menyusuri Jalan Salah Eddin, salah satu koridor evakuasi utama yang diumumkan Tentara Israel (IDF).
Diantara mereka banyak perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, dan orang cacat yang berjalan.
Baca Juga: Rockstar Game Ungkap Trailer GTA 6 Bakal Hadir Awal Desember
Ini adalah hari kelima berturut-turut IDF membuka jendela evakuasi, dan jumlah orang yang melarikan diri ke selatan meningkat setiap harinya.
PBB mengatakan 2.000 orang telah melarikan diri ke selatan pada Minggu (5/11), meningkat menjadi 15.000 pada Selasa (7/11).
Pemerintah Israel mengklaim 50.000 warga Gaza melakukan perjalanan melalui koridor evakuasi pada Rabu (8/11). Militer Israel memberi waktu empat jam untuk evakuasi di hari itu.
Baca Juga: Ini Makna Nama Jewelry Bonney di One Piece
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant mengklaim bahwa IDF telah berada di “jantung Kota Gaza” dan menargetkan infrastruktur dan komandan Hamas di sana.
“Gaza adalah benteng teror terbesar yang pernah dibangun umat manusia. Seluruh kota ini adalah basis teror yang besar. Di bawah tanah, mereka memiliki terowongan berkilo-kilometer yang menghubungkan ke rumah sakit dan sekolah,” kata Gallant.
IDF telah membombardir Gaza selama berminggu-minggu, dan mengatakan bahwa mereka mencapai 14.000 sasaran teroris di wilayah padat penduduk tersebut.
Baca Juga: Fitur Baru: WhatsApp Dapat Sembunyikan Alamat IP Selama Panggilan
Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Gaza, setidaknya lebih dari 10.569 orang tewas dalam pemboman tanpa henti Israel. Termasuk, 4.324 anak-anak.
Perang pecah pada tanggal 7 Oktober ketika Hamas melancarkan serangan terhadap Israel Selatan yang menurut pihak berwenang di sana menewaskan lebih dari 1.400 orang.
Banyak di antara pengungsi membandingkan perpindahan mereka dengan “Nakba,” atau malapetaka, istilah Arab untuk pengusiran warga Palestina dari kota-kota mereka pada saat berdirinya Israel tahun 1948.
Baca Juga: Fitur Baru: WhatsApp Dapat Sembunyikan Alamat IP Selama Panggilan
Kepergian mereka ke Gaza selatan secara besar-besaran telah menghidupkan kembali perasaan deja vu yang menyakitkan.

