RELUNG.ID — Selama dua hari, yakni 12–13 Juni 2025, Direktorat Pemberdayaan Peran Serta Masyarakat (PPM) Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar sosialisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palembang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan program MBG yang menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Direktur Direktorat PPM BGN Tengku Syahdana dan Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN Nyoto Suwignyo, serta perwakilan dari dinas-dinas terkait.
Dalam sambutannya, Tengku Syahdana menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat perluasan cakupan penerima manfaat MBG, khususnya kelompok non-peserta didik.
“Berdasarkan data yang ada, penerima manfaat non-peserta didik seperti ibu menyusui, ibu hamil, dan balita masih tergolong rendah. Kita perlu percepatan agar mereka juga bisa terjangkau,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor dan pengelolaan profesional agar program MBG dapat berjalan optimal. Menurutnya, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan yang harus diatasi bersama.
“APBD tidak akan mampu meng-cover seluruh program karena 30 persen anggaran terserap untuk belanja pegawai. Kita butuh kolaborasi dengan stakeholder. Ini bukan program yang mencari keuntungan, tapi investasi jangka panjang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tengku juga menyebut bahwa saat ini kebutuhan pangan untuk MBG baru dapat dipenuhi sekitar 10 persen dari dalam negeri, sementara 90 persen sisanya masih membutuhkan dukungan eksternal.
Sementara itu, Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Nyoto Suwignyo menambahkan bahwa pelibatan berbagai pemangku kepentingan sangat krusial dalam menyukseskan program ini.
“Kami mengajak pemerintah pusat, daerah, swasta, perguruan tinggi, dan media massa untuk ikut terlibat. Penerima program ini memang fokus pada siswa, tapi juga menyasar kelompok rentan lainnya. Pemerintah terus berupaya agar implementasinya lebih merata di lapangan,” kata Nyoto.
Ia juga mendorong para investor agar tidak hanya fokus pada pembangunan dapur umum, namun juga melihat potensi pada sisi bahan baku pangan. Selain itu, koperasi didorong menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi lokal dalam mendukung MBG.
Program ini juga disoroti oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel. Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Poniyem, mengungkapkan bahwa hingga saat ini baru sekitar 10,58 persen dari 1 juta siswa di Kota Palembang yang menerima manfaat program MBG, belum termasuk santri di pondok pesantren.
“Dengan adanya sosialisasi ini, kami berharap cakupan program MBG akan meningkat, termasuk ke wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau,” ujarnya.
Meski cakupan MBG masih terbatas, dampaknya mulai terlihat. Berdasarkan data Bappeda Sumsel, angka stunting di provinsi ini berhasil diturunkan dari 20 persen menjadi 15,55 persen dalam beberapa tahun terakhir.
BGN menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga swasta, dan masyarakat demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
“Gizi adalah urusan bersama. Kami mengajak seluruh pihak untuk menjadikan program Makan Bergizi Gratis sebagai gerakan bersama demi masa depan bangsa,” tutup Tengku. (CKM)

