RELUNG.ID – Musim kemarau yang mulai melanda Sumatera Selatan belum sepenuhnya menghilangkan potensi hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah di Sumsel masih akan diguyur hujan ringan hingga sedang dalam beberapa hari ke depan.
Meski begitu, hujan diperkirakan hanya terjadi secara lokal dan berdurasi singkat, sehingga tidak akan merata di seluruh wilayah.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sinta Andayani, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah fenomena atmosfer yang masih aktif di kawasan Sumatera.
“Berdasarkan pantauan dinamika atmosfer dan pemodelan cuaca, wilayah Sumsel masih memiliki potensi hujan. Kondisi ini dipicu oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada di wilayah Sumatera bagian utara, adanya intrusi udara kering di Sumatera bagian selatan, serta pola sirkulasi angin di perairan barat Sumatera Utara,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Sinta, kombinasi berbagai faktor tersebut masih mendukung terbentuknya awan hujan meski sebagian besar wilayah Sumsel telah memasuki musim kemarau.
Ia menjelaskan, karakteristik hujan pada musim kemarau berbeda dengan musim penghujan. Curah hujan cenderung lebih rendah, berlangsung dalam waktu singkat, dan hanya terjadi di titik-titik tertentu.
“Pada musim kemarau intensitas hujan mulai menurun. Hujan yang terjadi umumnya ringan hingga sedang, berdurasi pendek, dan bersifat lokal atau tidak merata,” katanya.
Di balik kondisi tersebut, BMKG menilai hujan yang masih turun membawa manfaat bagi lingkungan. Selain membantu menurunkan suhu udara yang belakangan terasa lebih panas, hujan juga berperan mengurangi debu dan polusi udara.
Tak hanya itu, kelembapan yang ditinggalkan hujan juga dinilai mampu mengurangi risiko munculnya titik panas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Hujan yang turun dapat membasahi lahan sehingga membantu menekan potensi terbentuknya hotspot di sejumlah wilayah,” jelasnya.[THQ]

