RELUNG.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk waspada menghadapi kondisi cuaca yang fluktuatif selama musim pancaroba. Musim ini menandai transisi dari musim hujan ke musim kemarau dengan peningkatan suhu udara yang signifikan.
Koordinator BMKG Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa suhu udara di wilayah Sumsel saat ini berkisar antara 32 hingga 34 derajat Celcius. Tingginya kelembapan udara membuat suhu terasa lebih menyengat.
“Suhu panas dapat menyebabkan dehidrasi dan heat stroke. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat terpapar sinar matahari langsung,” ujar Wandayantolis, Rabu (7/5/2025).
Menurut Wandayantolis, masa pancaroba ditandai dengan pola cuaca yang dinamis. Meski masih ada hari-hari dengan hujan, periode tanpa hujan mulai terasa lebih panjang dengan jeda hingga 3-6 hari.
“Fase ini juga menjadi puncak suhu maksimum pertama dalam setahun, yang terjadi akibat pelepasan panas dari daratan dan lautan setelah matahari semu melintasi wilayah Sumsel,” jelasnya.
Selain itu, minimnya pembentukan awan selama periode tanpa hujan mengurangi perlindungan dari radiasi matahari langsung, sehingga suhu udara terasa lebih tinggi.
Pemanasan intensif pada pagi hari selama masa pancaroba juga dapat memicu pembentukan sistem konvektif kuat di siang hingga sore hari, yang berpotensi menimbulkan hujan lokal.
“Pola cuaca selama masa ini cenderung berubah cepat. Masyarakat perlu waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara mendadak,” tambahnya.
BMKG mengimbau masyarakat Sumsel untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca panas, seperti dehidrasi, dan perubahan cuaca yang cepat. Mengkonsumsi cukup air, menghindari paparan sinar matahari langsung, dan memantau informasi cuaca dari BMKG adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan selama musim pancaroba.[THQ]

