RELUNG.ID – Fenomena baru tengah mencuat di tengah upaya pemberantasan narkoba di Kota Prabumulih.
Badan Narkotika Nasional (BNN) setempat mencatat peningkatan signifikan jumlah perempuan yang terlibat sebagai pengedar narkotika.
Ironisnya, tren ini muncul saat kesadaran warga untuk menyerahkan anggota keluarga pecandu narkoba justru mulai tumbuh.
“Perempuan kini lebih dominan sebagai pengedar narkoba dibanding laki-laki,” beber Kepala BNN Prabumulih, AKBP Fauzia, saat dikonfirmasi akhir pekan ini.
Menurut Fauzia, pergeseran peran ini harus menjadi perhatian serius. Perempuan dalam jaringan narkotika kerap menjalankan fungsi ganda. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus operator distribusi barang haram.
“Dampaknya sangat besar. Bukan hanya pada penyalahgunaan, tapi juga pada stabilitas sosial keluarga,” tegasnya.
BNN menilai peran ganda ini membuat modus operandi makin sulit dideteksi. Banyak dari mereka memanfaatkan relasi sosial dan lingkungan rumah sebagai jalur peredaran.
“Ini bukan hanya kejahatan, tapi pengkhianatan terhadap peran mereka di dalam keluarga,” ucap Fauzia.
Di sisi lain, ada harapan yang tumbuh dari kesadaran sejumlah keluarga yang secara sukarela menyerahkan kerabat mereka ke BNN untuk direhabilitasi.
Dalam sepekan terakhir, tercatat empat orang pengguna narkoba telah diserahkan keluarganya ke BNN Prabumulih.
Tiga di antaranya menjalani rawat inap, dengan dua sudah dirujuk ke fasilitas rehabilitasi di Bengkulu dan satu lagi dijadwalkan berangkat ke Kalianda, Lampung, Senin (7/7/2025). Seorang pasien diketahui berasal dari Kelurahan Anak Petai, Kecamatan Prabumulih Utara.
“Ini langkah berani dan patut diapresiasi. Menyerahkan anggota keluarga untuk direhabilitasi bukan keputusan mudah, tapi itulah bentuk cinta sejati,” ujar Fauzia.
Ia menegaskan bahwa program rehabilitasi BNN bersifat rahasia dan tidak berdampak hukum. “Rehabilitasi bukan penjara. Justru ini upaya penyelamatan sebelum semuanya terlambat,” katanya.
BNN Prabumulih kini mengubah strategi. Fokus bukan hanya pada penindakan, tapi juga penguatan ketahanan keluarga dan komunitas. Sosialisasi akan diperluas ke wilayah rawan, dengan pendekatan edukatif yang lebih menyentuh akar persoalan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Partisipasi warga adalah benteng pertama,” pungkas Fauzia. (SMP)

