RELUNG.ID – Budayawan Palembang, Vebri Al Lintani, menyerukan gerakan bersama untuk menyelamatkan Benteng Kuto Besak (BKB) dari rencana pembangunan gedung baru Rumah Sakit dr. AK Gani di kawasan cagar budaya tersebut. Ajakan itu disampaikan dalam rapat final aksi 1212 Penyelamatan BKB di kediaman almarhum Raden H. Moh Akib, Sabtu (6/12/2025).
“Mari kita bersama-sama memperjuangkan BKB. Semua organisasi, komunitas, dan kelompok masyarakat dipersilakan bergabung. Kalau pun bergerak di luar aliansi, silakan. Yang penting satu tujuan: menyelamatkan BKB,” tegas Vebri.
Rencana pembangunan gedung tujuh lantai dengan dana Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari Pemprov Sumsel sebesar Rp53 miliar dinilai mengancam kelestarian kawasan BKB. Vebri menilai pembangunan fondasi dalam berpotensi besar merusak lapisan tanah yang menyimpan temuan arkeologis penting.
“Kawasan BKB adalah cagar budaya. Bukan tidak mungkin di bawahnya terdapat artefak yang belum terungkap. Fondasi gedung tinggi jelas akan mengganggu,” ujarnya.
Selain ancaman fisik, Vebri menyoroti kondisi kawasan inti BKB yang masih berada dalam kendali militer. Banyak titik penting tidak dapat diakses publik maupun peneliti, sehingga potensi sejarah Kesultanan Palembang sulit dipelajari secara menyeluruh.
“Nilai sejarahnya sangat tinggi, tetapi kawasan itu tertutup. Padahal penelitian arkeologi di sana dapat membuka banyak hal,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa kesepakatan sebelumnya dengan pihak TNI terkait pengembangan RS dr. AK Gani mensyaratkan pembangunan tidak mengganggu kawasan cagar budaya dan harus didampingi tim ahli. Namun, ia menilai ketentuan itu tidak dijalankan dengan benar.
Vebri mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertemu Komisi V DPRD Sumsel dan meminta dana BKBK dialihkan untuk relokasi RS dr. AK Gani beserta para penghuninya.
“Kita minta dananya dialihkan untuk relokasi. BKB harus kembali menjadi kawasan cagar budaya,” tegas mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang tersebut.
Sebagai langkah jangka panjang, Vebri mendorong relokasi seluruh fasilitas militer dari area inti BKB. Menurutnya, penataan ulang kawasan adalah langkah mutlak untuk memulihkan fungsi historis benteng tersebut.
“Kalau cagar budaya terus tergerus, kita menghapus sejarah kita sendiri. BKB harus dilestarikan, dibuka untuk penelitian, dan dihidupkan kembali sebagai pusat sejarah Kesultanan Palembang,” pungkasnya. (DSK)

