RELUNG.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor baru penggerak ekonomi daerah. Data Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat hingga Oktober 2025, sudah ada 10.681 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.
Menariknya, seluruh dapur tersebut dibangun tanpa menggunakan dana APBN, melainkan sepenuhnya hasil kontribusi para mitra swasta dan pelaku usaha.
“Pembangunan 10.681 SPPG sejauh ini 100 persen berasal dari dana mitra, belum ada yang menggunakan anggaran negara,” ungkap Kepala BGN Dadan Hindayana, dalam diskusi Zona Pangan bersama HIPMI di Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).
Dadan menjelaskan, setiap mitra yang berpartisipasi dalam pembangunan dapur MBG menanamkan investasi minimal Rp 2 miliar untuk satu SPPG. Skema ini tidak hanya memperkuat kolaborasi publik-swasta, tetapi juga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian lokal, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Setiap mitra yang membangun dapur itu otomatis memberdayakan warga sekitar — dari tukang bangunan, penyedia bahan pangan, hingga tenaga masak. Jadi manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
BGN menargetkan pembangunan 25.400 dapur MBG di daerah aglomerasi dan 6.000 dapur di wilayah terpencil hingga akhir 2025.
Sementara itu, Deputi Penyediaan dan Penyaluran BGN, Suardi Samiran, mengungkapkan besarnya potensi ekonomi dari keberadaan dapur-dapur tersebut. Satu dapur saja, katanya, mampu menghasilkan perputaran uang hingga Rp 1 miliar per bulan.
“Bayangkan, kalau di satu kabupaten ada 80 dapur MBG, berarti ada Rp 80 miliar uang beredar per bulan — atau sekitar Rp 800 miliar dalam setahun,” kata Suardi.
Angka tersebut, lanjutnya, bahkan melampaui Pendapatan Asli Daerah (PAD) sejumlah kabupaten di Indonesia.
Program MBG yang awalnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat kini menjadi model pembangunan inklusif yang tidak hanya menyehatkan warga, tapi juga menggerakkan ekonomi daerah dari bawah.
“Inilah semangat MBG: gotong royong lintas sektor. Gizi masyarakat naik, ekonomi daerah pun tumbuh,” tutup Dadan.

