RELUNG.ID- Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengungkap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) saat insiden dugaan keracunan massal menimpa sekitar 200 siswa dari 12 sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Temuan tersebut diungkap Kepala Dinkes Surabaya, Billy Daniel Messakh dalam rapat dengar pendapat bersama Natalius Pigai di Gedung DPRD Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Billy menjelaskan, berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), dapur MBG Tembok Dukuh hanya memperoleh skor 81,85 persen dan masuk kategori Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
“SPPG ini belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, padahal itu syarat wajib jasa boga,” ujar Billy.
Selain belum memiliki sertifikat higiene, Dinkes juga menemukan sejumlah pelanggaran sanitasi di area dapur. Salah satunya terkait proses pencairan daging beku yang dilakukan di area tidak higienis.
“Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost di area yang tidak bersih. Jadi waktu di-defrost itu lamanya sekitar dua jam, baru daging layak dipotong,” ungkapnya.
Petugas juga menemukan banyak lalat di area pengolahan makanan. Menurut Billy, perangkap serangga yang dipasang tidak memenuhi standar sehingga serangga tetap bebas keluar masuk dapur.
“Dia punya insect trap, tapi tidak memenuhi standar, jadi ada lampu tapi tidak ada trap-nya,” jelas Billy.
Tak hanya itu, pintu dapur disebut tidak dilengkapi tirai plastik penghalang serangga yang seharusnya menjadi standar kebersihan dapur pengolahan makanan.
Insiden keracunan massal tersebut menyebabkan hampir 200 siswa dari tingkat TK, SD hingga SMP mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG pada Senin (11/5/2026).
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, Tyas Pranadani mengatakan dugaan sementara mengarah pada menu daging yang disajikan hari itu.
“Kalau dari pantauan kami dan laporan guru-guru, biasanya enggak dikasih daging, hari ini ada daging. Jadi mungkin dari dagingnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla membantah bahwa bahan makanan yang digunakan dalam kondisi basi. Ia menegaskan daging diterima dalam kondisi baik dan telah dimasak sesuai standar.
“Dagingnya enggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu bahan yang sangat riskan banget,” ujar Chafi.
Saat ini operasional dapur SPPG Tembok Dukuh dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).[YKP]

