RELUNG.ID — Warga Sumatera Selatan (Sumsel) diminta bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan datang lebih awal dari biasanya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi sejak Mei hingga Juni 2026. Bahkan, sebagian wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih cepat hingga sekitar 20 hari dibandingkan pola normal.
“Mayoritas wilayah akan mulai kemarau pada awal hingga pertengahan Juni, dengan sebagian sudah lebih dulu pada akhir Mei,” ujarnya.
Tak hanya datang lebih awal, karakter musim kemarau tahun ini juga didominasi kondisi “bawah normal”, yang berarti curah hujan lebih rendah dari biasanya. Situasi ini dinilai meningkatkan potensi kekeringan, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan untuk aktivitas pertanian dan sumber air.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah, dan Agustus di mayoritas daerah. Namun, waktu puncak ini tidak merata, karena ada wilayah yang mengalami lebih cepat atau justru lebih lambat dari biasanya.
Selain itu, durasi kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni antara dua hingga lima bulan. Wilayah bagian tengah Sumatera Selatan bahkan berpotensi mengalami kemarau terpanjang hingga lima bulan.
“Ini termasuk durasi yang cukup panjang, sehingga perlu diantisipasi sejak dini,” kata Wandayantolis.[THQ]

