RELUNG.ID — Debat ketiga Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan 2024 di Hotel Aryaduta, Kamis (21/11/2024), memanas ketika pasangan calon nomor urut 01 Herman Deru-Cik Ujang (HDCU) dan pasangan nomor urut 02 Eddy Santana Putra-Rizky Aprilia (ESP) saling beradu argumen terkait sejumlah proyek infrastruktur mangkrak di Sumsel.
Eddy Santana Putra (ESP) memulai serangan dengan mempertanyakan pengelolaan Jakabaring Sport City (JSC), yang ia anggap terbengkalai selama masa kepemimpinan Herman Deru. Menurutnya, kawasan olahraga yang dibangun dengan biaya besar di era Alex Noerdin kini dalam kondisi memprihatinkan.
“Kami melihat Jakabaring Sport City kumuh, tidak ada pemeliharaan. Wisma atlet parah, venue dayung juga tidak digunakan lagi. Bagaimana tanggapan saudara? Kenapa dibiarkan menjadi seperti ini?” tanya ESP.
Menanggapi tuduhan itu, Herman Deru (HD) membantah dan menegaskan bahwa selama masa jabatannya, kawasan JSC dirawat dengan baik. Ia mengklaim bahwa kondisi buruk yang disebutkan ESP terjadi setelah masa kepemimpinannya berakhir.
“Pak Eddy salah. Selama saya menjabat, Jakabaring dirawat dengan baik. Mungkin kondisi terbaru yang Anda lihat terjadi setelah saya tidak menjabat lagi,” ujar HD.
Debat semakin sengit ketika ESP menyinggung beberapa proyek mangkrak lain, seperti Masjid Raya Sriwijaya dan Pasar Cinde, yang menurutnya tidak dilanjutkan oleh HD.
“Banyak pembangunan yang mangkrak dan menjadi kumuh selama delapan tahun terakhir. Ini adalah tanggung jawab gubernur untuk melanjutkan proyek-proyek sebelumnya, tetapi Anda membiarkan itu terkatung-katung,” kritik ESP.
Herman Deru memberikan penjelasan terkait proyek-proyek tersebut, terutama pembangunan Pasar Cinde yang menurutnya terhambat oleh masalah hukum. HD menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa melanjutkan proyek jika masih ada persoalan hukum yang belum selesai.
“Bapak tahu, proyek (Pasar Cinde) itu bermasalah sejak awal, termasuk residu dan investornya yang mundur. Hal ini menyebabkan persoalan hukum. Tidak mungkin kita menganggarkan proyek besar kalau tanahnya belum clear and clean,”jelas HD.
Debat ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan tajam antara kedua paslon dalam hal prioritas pembangunan dan cara menangani proyek-proyek infrastruktur yang bermasalah. Herman Deru membela rekam jejaknya, sementara Eddy Santana Putra terus menekan dengan kritik tajam.
Dengan hari pencoblosan yang semakin dekat, momen seperti ini menjadi ajang penting bagi para kandidat untuk meyakinkan masyarakat Sumsel terkait visi dan program mereka dalam menangani isu pembangunan dan tata kelola wilayah.[TRA]

