RELUNG.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus dengue setelah fenomena El Nino.
Peningkatan kasus diperkirakan terjadi ketika musim hujan mulai datang, terutama pada periode Oktober 2026 hingga Januari 2027.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan pola tersebut terlihat dari tren kasus pada tahun-tahun sebelumnya.
Kasus dengue cenderung meningkat setelah periode El Nino ketika curah hujan mulai kembali meningkat.
“Jika melihat tren kasus beberapa tahun sebelumnya, peningkatan signifikan kasus dengue akan terjadi setelah El Nino, saat memasuki musim hujan yaitu pada bulan Oktober-Januari,” ujar dia, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, peningkatan kewaspadaan justru harus dilakukan sebelum memasuki periode tersebut. Sebab, kondisi lingkungan yang mulai mendapatkan hujan dapat meningkatkan kepadatan nyamuk sebagai vektor penular dengue.
“Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi diminta mulai digencarkan sejak Agustus-September. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan populasi nyamuk sebelum memasuki periode yang berpotensi menjadi puncak penularan,”kata dia.
Berdasarkan data Dinkes Sumsel hingga 9 September 2026, tercatat 2.841 kasus dengue dengan 19 kematian. Angka tersebut menghasilkan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,67 persen.
“Angka tersebut masih berada di atas target CFR kurang dari 0,4 persen yang ditetapkan sebagai indikator pengendalian kematian akibat dengue,” kata dia.
Secara tahunan, kasus dengue di Sumsel tercatat mengalami fluktuasi. Pada 2023 terdapat 2.804 kasus, kemudian meningkat menjadi 6.263 kasus pada 2024. Jumlah tersebut turun menjadi 4.436 kasus pada 2025 dan hingga September 2026 tercatat 2.841 kasus.
“Kota Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi pada 2026, yakni 744 kasus. Berikutnya Muara Enim 533 kasus, Ogan Ilir 253 kasus, Banyuasin 231 kasus, dan Musi Banyuasin 215 kasus,”kata dia.
Sementara dari sisi kematian, Muara Enim menjadi daerah dengan angka tertinggi, yakni lima orang. Banyuasin mencatat empat kematian, Musi Banyuasin tiga, PALI dua, Lubuklinggau dua, serta Palembang, Pagar Alam dan Ogan Ilir masing-masing satu kematian.
“Kami mencatat sejumlah kematian terjadi karena pasien terlambat mendapatkan penanganan medis dan sudah berada dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS). Penyakit penyerta atau komplikasi juga dapat memperburuk kondisi pasien,”kata dia.
Ira mengatakan kondisi iklim turut menjadi perhatian dalam menghadapi potensi peningkatan kasus. Suhu yang semakin tinggi dapat mempercepat siklus hidup nyamuk sekaligus meningkatkan frekuensi nyamuk mengisap darah.
“Ketika hujan mulai turun dan genangan air semakin banyak, kondisi tersebut dapat menciptakan lebih banyak tempat berkembang biak bagi nyamuk,”kata dia.
Selain dengue, peningkatan populasi nyamuk juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit lain yang ditularkan melalui nyamuk, seperti chikungunya dan malaria.
“Kami telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Selain PSN 3M Plus, pemerintah daerah akan mendistribusikan larvasida dan insektisida serta meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani pasien dengan gejala demam,”kata dia.
Tak hanya itu, penyuluhan kepada masyarakat juga akan diperkuat melalui media sosial dan media cetak. Langkah tersebut dinilai penting karena periode Oktober hingga Januari diperkirakan menjadi masa kritis peningkatan penularan dengue setelah El Nino.
“Kami selalu mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk ketika mengalami demam atau gejala yang mengarah pada dengue. Penanganan lebih awal menjadi salah satu kunci untuk mencegah pasien masuk ke kondisi berat,”kata dia.
“Di tingkat lingkungan, masyarakat juga diminta tidak menunggu musim hujan tiba untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. PSN yang dilakukan sejak sebelum puncak musim hujan diharapkan dapat menekan populasi nyamuk dan memutus rantai penularan sejak awal,”tambah dia. (THQ)

