RELUNG.ID — Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan (BPS Sumsel) melaporkan bahwa sektor ekspor, terutama minyak dan gas (migas), mengalami kontraksi sebesar 18 persen pada September 2024. Meskipun ekspor migas menurun, ekspor secara keseluruhan di Sumsel tetap tumbuh sebesar 4,23 persen.
“Kami belum dapat memastikan penyebab utama penurunan ekspor migas ini, apakah karena penurunan produksi atau faktor eksternal lainnya,” ujar Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, dalam keterangan persnya, Minggu (3/11/2024).
Menurut data BPS, total nilai ekspor Sumsel pada September 2024 mencapai US$611,20 juta, naik dibandingkan Agustus yang tercatat sebesar US$586,38 juta.
Kenaikan ini terutama didorong oleh sektor non-migas, yang mencapai nilai US$580,03 juta dan mengalami peningkatan 5,82 persen secara bulanan.
Secara sektoral, ekspor dari pertanian mengalami peningkatan tertinggi dengan 138,62 persen, diikuti pertambangan dengan kenaikan 9,15 persen, dan industri sebesar 0,10 persen.
“Pertanian dan industri menunjukkan tren positif dalam peningkatan ekspor,” tambah Wahyu.
Komoditas utama yang menyumbang peningkatan ekspor Sumsel pada September tahun ini meliputi batubara, kayu dan produk kayu, serta pulp atau bubur kertas.
Secara kumulatif dari Januari hingga September, ekspor non-migas tetap menjadi penyumbang terbesar, mencapai 92,64 persen dari total ekspor Sumsel.[AYK]

