RELUNG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat nilai ekspor daerah itu mencapai 645,99 juta dolar AS pada November 2025. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 18,87 persen dibandingkan dengan Januari 2025 yang tercatat sebesar 543,43 juta dolar AS.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, dalam keterangan di Palembang, Jumat (11/4), mengungkapkan peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas sebesar 23,21 persen dengan total 616,20 juta dolar AS.
“Kenaikan ini sebagian besar berasal dari peningkatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO (minyak sawit mentah), karet dan produk berbahan karet, serta bubur kertas (pulp),” jelas Wahyu.
Tiongkok tercatat sebagai negara tujuan ekspor terbesar bagi Sumsel, dengan nilai transaksi mencapai 249,98 juta dolar AS. Komoditas yang diekspor ke Tiongkok meliputi bubur kertas, lignit, dan karet remah.
“Pangsa pasar Tiongkok masih mendominasi, dan permintaan komoditas utama terus menunjukkan tren positif,” tambahnya.
Sementara itu, nilai impor Sumsel pada Februari 2025 turun drastis menjadi 65,02 juta dolar AS, atau turun 51,09 persen dibandingkan Januari 2025. Dibandingkan Februari 2024, penurunan ini bahkan mencapai 71,55 persen.
Penurunan impor tersebut terutama terjadi pada kategori nonmigas yang menyusut 51,08 persen menjadi 64,78 juta dolar AS. Untuk impor migas, nilainya turun menjadi 0,24 juta dolar AS dari 0,52 juta dolar AS pada Januari 2025.
Dengan kenaikan ekspor yang signifikan dan penurunan impor, neraca perdagangan Sumsel pada Februari 2025 mencatat surplus besar sebesar 580,97 juta dolar AS.
“Kinerja perdagangan yang positif ini menunjukkan daya saing komoditas Sumsel di pasar global, sekaligus mencerminkan upaya efisiensi impor,” tutup Wahyu.[THQ]

