RELUNG.ID – Pebiliar andalan Sumatera Selatan, Etha Mariana, berhasil meraih posisi kedua di Relung Billiard Challenge 2025 Kapolda Sumsel Cup setelah bersaing ketat dengan deretan atlet wanita terbaik.
Meski tak menjuarai turnamen bergengsi tersebut, Etha justru menegaskan komitmennya untuk terus memajukan cabang olahraga biliar, khususnya bagi kaum perempuan di daerahnya.
Etha, mengawali karier di dunia biliar secara tak sengaja saat masih kuliah. “Awalnya cuma iseng main di rumah biliar untuk mengisi waktu luang,” kata perempuan berusia 38 tahun ini.
Peruntungan Etha berubah ketika ia bertemu pelatih Husein Adhan, figur penting di Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sumsel, yang kemudian membimbingnya secara serius.
Debut Etha di kejuaraan resmi terjadi pada 2010 saat mewakili Sumsel di Kartini Cup di Jakarta. Sejak itu, prestasinya terus menanjak, medali perak pada Porwil 2019, finis juara 3 di kejuaraan nasional Bangka, hingga memperkuat kontingen Sumsel di PON 2021 Papua.
Di Relung Billiard Challenge 2025, Etha tampil agresif sepanjang babak penyisihan dan semifinal. Namun di final, ia harus mengakui keunggulan lawannya dan menutup turnamen sebagai runner-up.
“Meski belum jadi juara, saya bangga bisa terus berada di puncak persaingan,” katanya usai menerima piala runner-up.
Lebih dari sekadar hasil, Etha menyoroti kurangnya turnamen wanita di Sumsel. Selama enam bulan terakhir, hadiah untuk kategori putri di turnamen lokal bahkan seringkali lebih kecil dibanding putra.
“Relung Billiard Challenge 2025 ini menawarkan hadiah terbesar dalam setengah tahun terakhir, tapi masih perlu lebih banyak event,” ujarnya.
Dia mengusulkan penyelenggaraan turnamen minimal setiap tiga bulan sekali di kota-kota seperti Palembang. Menurut Etha, jadwal rutin akan menjaga semangat kompetisi, sekaligus memunculkan bibit baru pebiliar perempuan.
“Dengan dukungan KONI dan pemerintah daerah, bukan tidak mungkin lahir atlet perempuan Sumsel yang bisa bersaing di kancah nasional,” pungkasnya. (LWM)

