Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah, dan Teknik dari Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (MBHTE BARMM) Filipina berencana membangun Madrasah Negeri di negara Mutiara Laut Orien. Mereka berguru ke Indonesia dalam hal membangun, membuat kebijakan serta implementasi kebijakan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI (Kemenag), Muhammad Ali Ramdhani mengatakan rombongan dari Filipina yang sedang benchmarking ini akan melakukan kunjungan ke beberapa lembaga Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Al Hamid Jakarta Timur, Ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta dan MAN Insan Cendekia (IC) Serpong Tangerang Selatan.
Kang Dhani menjelaskan, bahwa saat ini Kemenag melayani sebanyak lebih dari 77.000 lembaga madrasah, sebanyak 700 lembaga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) baik negeri maupun swasta, dan melayani 35.000-an Pondok Pesantren yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia.
“Ini adalah angka luar biasa dan semua ini ditangani secara struktural oleh Ditjen Pendis. Sehingga bisa dikatakan ini adalah Direktorat paling besar di Indonesia,” katanya dikutip dari keterangan resminya, Rabu (14/9).
Selain itu, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menjelaskan bahwa, praktik baik alias berguru tentang penyelenggaraan madrasah ini juga selayaknya bisa lakukan pihak Kemenag sendiri. Artinya tidak ada salahnya berguru ke Filipina, khususnya ke Moro.
“Sebetulnya, benchmarking penting, karena kita saat ini melakukan terobosan bahwa ada tantangan kepada generasi di masa depan. Lalu, kurikulum kami rancang, agar mampu menjawab masa depan anak madrasah. Maka, di Madrasah Aliyah kami lakukan rekonstrusksi kurikulum dengan Cambridge sehingga alumni diterima di kampus terkemuka di dunia,” papar Kang Dhani.
Di hadapan delegasi asal Filipina, Kang Dhani juga menjelaskan bahwa madrasah di Indonesia pada dasarnya adalah sekolah pada umumnya. Namun, yang membedakan adalah satu, tambahan pelajaran agama. “Bedanya satu, bahwa kami menambahkan pelajaran agama sebagai inti penyelenggaraan madrasah. Sehingga kami tidak merubah, tapi menambah.” ujarnya.
Sementara itu, Dirjen Madaris Bangsamoro Filipina, Tahir G Nalg mengatakan alasan mereka berguru ke Indonesia ini karena karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia. “Selain itu, kami bisa menginterpretasikan kata ‘moderasi’ dengan Indonesia,” katanya.
Tahir mengungkapkan bahwa lulusan madrasah yang ada di Bangsamoro saat ini masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh penyedia, lanjutnya lagi, bahwa lapangan kerja untuk lulusan Madaris alias Madrasah dari Bangsamoro ia akui masih kesulitan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan sekolah umum.
“Kita ingin belajar, bagaimana lulusan pesantren dan madrasah dapat berkancah di dunia kerja layaknya lulusan sekolah umum,” jelasnya.
Dalam kunjunga ke beberapa lembaga Pendisika Islam, baik madrasah hinga pesantren, Dirjen Madarasai Bangsamoro ini mengakui bahwa timnya sangat terkesan dan banyak belajar dari kunjungan-kunjungan yang telah mereka lakukan.
“Kami sangat berharap bisa mengadopsi hal hebat yang diterapkan oleh sistem pendidikan Islam di Indonesia. Kedepannya, semoga kami bisa mengirim delegasi kami untuk belajar langsung di madrasah dan pesantren di Indonesia agar langsung bisa diterapkan di madrasah kami,” harapnya.

