RELUNG.ID – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski jumlah titik api dan luas lahan terbakar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur menurun, risiko kebakaran masih mengancam.
Peringatan itu disampaikan Herman Deru saat meninjau Posko Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla di Kantor Camat Belitang, OKU Timur, Sabtu (10/10/2026).
Ia menegaskan, api sekecil apa pun harus segera ditangani. Kondisi cuaca kering dan angin kencang dapat membuat api cepat merambat dan sulit dikendalikan.
“Secara umum, di OKU Timur ada penurunan, baik luasan lahan yang terbakar, titik kebakaran, maupun hotspot. Namun, saya mengingatkan agar kita tidak lengah dan tidak membiarkan api sekecil apa pun,” tegasnya.
Menurut Herman Deru, salah satu pemicu karhutla adalah kebiasaan masyarakat membersihkan kebun dengan cara membakar. Praktik tersebut berisiko memicu kebakaran lebih luas, terutama saat kondisi lahan kering.
Karena itu, ia meminta petugas meningkatkan patroli dan memastikan seluruh peralatan pemadaman siap digunakan. Kesiapan personel dan kecepatan penanganan menjadi kunci untuk mencegah api meluas.
Pemerintah Provinsi Sumsel juga terus memperkuat dukungan operasional bagi petugas di lapangan, termasuk melalui bantuan peralatan pemadaman.
OMC Sudah 70 Kali
Selain pemadaman langsung, Pemprov Sumsel mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu memicu hujan di wilayah rawan karhutla.
Herman Deru menyebut operasi tersebut telah dilaksanakan sekitar 70 kali. Namun, upaya itu menghadapi tantangan karena keberhasilan penyemaian awan bergantung pada kondisi atmosfer dan arah angin.
Dalam pelaksanaannya, pesawat dapat bergerak melalui sejumlah titik operasional, termasuk Palembang dan Pangkal Pinang, untuk mendukung penyemaian awan.
Ia berharap OMC dapat membantu membasahi lahan rawan kebakaran sehingga risiko munculnya titik api bisa ditekan.
Herman Deru juga menyoroti dampak asap terhadap kualitas udara di Kota Palembang dan sekitarnya. Kondisi topografi serta pergerakan angin yang lemah dapat membuat asap terperangkap di kawasan perkotaan.
Karena itu, penanganan karhutla di wilayah sumber asap harus diperkuat. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas udara dan melindungi kesehatan masyarakat.
Herman Deru turut mengingatkan perusahaan perkebunan dan kehutanan agar menjalankan kewajiban pencegahan serta penanggulangan karhutla sesuai ketentuan.
Perusahaan pemegang konsesi diminta berkontribusi melalui pembinaan Masyarakat Peduli Api, penyediaan peralatan, dan dukungan operasional bagi masyarakat yang terlibat dalam pencegahan kebakaran.
Ia juga menekankan pentingnya penegakan hukum apabila kebakaran terjadi. Aparat harus memeriksa penyebab kebakaran, termasuk menelusuri kemungkinan unsur kesengajaan maupun faktor lain yang menyebabkan api meluas.
Di tingkat desa, Herman Deru meminta pemerintah desa menjalankan peraturan desa (Perdes) tentang pencegahan karhutla. Aturan tersebut harus diterapkan dan ditegakkan sesuai kewenangan serta diselaraskan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas pemadam. Pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan seluruh unsur terkait harus terlibat aktif dalam mencegah kebakaran.
Penurunan titik api, tegasnya, bukan alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Pencegahan harus terus dilakukan agar kebakaran tidak kembali meluas dan memperburuk kualitas udara di Sumsel. (DSK)

