RELUNG.ID – Pemimpin kelompok milisi Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan kesiapan untuk menerima segala keputusan yang dapat mengakhiri agresi brutal di Jalur Gaza, Palestina.
“Hamas dan faksi perlawanan akan menangani secara serius dan positif setiap perjanjian yang didasarkan pada penghentian penuh agresi, penarikan total, dan pertukaran tahanan,” kata Haniyeh melalui Juru Bicara Hamas Abu Obaida, dikutip oleh Middle East Monitor pada Sabtu (8/6).
Respons ini menunjukkan tanda positif dari Hamas untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden sebelumnya telah mengusulkan proposal gencatan senjata guna menekan serangan Israel di kawasan tersebut. Rencana tersebut terdiri dari tiga fase yang mencakup beberapa tindakan dari kedua pihak.
Setiap fase terdiri dari beberapa kesepakatan, seperti penarikan seluruh pasukan Israel, pertukaran sandera dari kedua belah pihak, hingga rekonstruksi ulang Gaza.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya tidak siap untuk menghentikan perang yang terjadi dan menilai proposal gencatan senjata Biden tidak akurat. Menurutnya, tentara Israel akan terus berperang sampai mereka “menghilangkan” kapasitas Hamas untuk memerintah Gaza dan menimbulkan ancaman militer.
Seperti diketahui, proses mediasi untuk mengakhiri konflik tersebut sudah diinisiasi oleh beberapa negara seperti Mesir, Qatar, hingga AS. Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan gencatan senjata permanen di Gaza.
Berbagai upaya dari seluruh pihak juga masih dilakukan guna menekan eskalasi konflik lebih lanjut. Namun, Israel belum berniat untuk benar-benar mengakhiri perang tersebut. Gugatan di Mahkamah Pengadilan Internasional (ICJ) bahkan masih belum cukup untuk menghentikan gempuran Tel Aviv. Sejauh ini, konflik tersebut sudah memasuki bulan ke delapan dan telah menewaskan lebih dari 36.500 warga Palestina.

