RELUNG.ID – Hamas dengan tegas menolak rencana yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk merelokasi warga Gaza Palestina ke Yordania, Mesir, atau bahkan Indonesia. Rencana ini dianggap sebagai ancaman terhadap hak warga Palestina untuk tetap tinggal di tanah kelahiran mereka yang kini dilanda konflik berkepanjangan.
Seorang pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengecam keras usulan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya terselubung untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah air mereka.
“Kami tidak akan menerima tawaran atau solusi apa pun, bahkan jika itu dikemas seolah-olah untuk tujuan rekonstruksi, seperti yang diumumkan dalam proposal Presiden AS Trump,” ujarnya kepada Reuters, Senin (27/1).
Penolakan serupa juga disampaikan Sami Abu Zuhri, pejabat lain dari Hamas, yang memperingatkan Trump agar tidak mengulangi kebijakan serupa yang dinilai gagal oleh pendahulunya, Joe Biden.
“Orang-orang Gaza telah mengalami penderitaan dan kematian, namun mereka menolak meninggalkan tanah air mereka. Mereka tidak akan menyerahkan tanah mereka, terlepas dari alasan apa pun yang diajukan,” tegasnya.
Proposal relokasi tersebut diduga bertujuan untuk mengurangi ketegangan di wilayah Gaza yang terus menjadi pusat konflik antara Palestina dan Israel. Namun, rencana ini memicu kekhawatiran bahwa relokasi besar-besaran hanya akan memperparah penderitaan rakyat Palestina serta mengabaikan hak mereka untuk tinggal di tanah airnya.
Pihak Hamas menilai usulan ini sebagai upaya mencabut identitas nasional Palestina yang telah diperjuangkan selama beberapa dekade. Organisasi itu mendesak masyarakat internasional untuk menolak langkah yang dinilai sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional tersebut.
Dengan meningkatnya penolakan terhadap rencana ini, masa depan warga Palestina di Gaza kembali menjadi sorotan dunia, di tengah desakan solusi damai yang menghormati hak rakyat Palestina untuk tetap berada di tanah mereka.[TRA]

