RELUNG.ID — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai dirasakan dampaknya oleh sektor industri di Sumatera Selatan. Tekanan terhadap biaya operasional dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat.
Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan bahwa fluktuasi harga energi menjadi tantangan nyata, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada mobilitas dan distribusi.
“Peningkatan harga BBM nonsubsidi tentu berdampak pada biaya operasional, yang pada akhirnya bisa memengaruhi harga barang dan jasa,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, dampak tersebut paling terasa pada rantai produksi dan distribusi. Kenaikan ongkos logistik berisiko menekan margin keuntungan pelaku industri jika tidak diimbangi dengan langkah efisiensi.
Meski demikian, kondisi industri di Sumsel dinilai masih relatif stabil. Pemerintah daerah berharap adanya dinamika harga energi yang lebih bersahabat agar pelaku usaha tetap mampu menjaga daya saing.
Di tengah tekanan tersebut, Deru mendorong pelaku industri untuk mulai beradaptasi dengan pola kerja yang lebih efisien. Salah satunya melalui penerapan sistem kerja fleksibel seperti work from home (WFH) dan work from anywhere (WFA), serta menekan aktivitas yang tidak produktif.
“Efisiensi menjadi kunci. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan, tanpa mengorbankan aktivitas yang benar-benar produktif,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa situasi ini tidak terlepas dari pengaruh global. Pemerintah pusat, lanjutnya, telah berupaya menjaga stabilitas dengan memastikan harga BBM bersubsidi tetap aman, sehingga beban masyarakat tidak semakin berat.[THQ]

